Sabtu, 16 Februari 2019

Seruan Uskup Agung Semarang menyambut Pemilihan Umum 17 April 2019


JADILAH PEMILIH BERIMAN, CERDAS, DAN BIJAKSANA SEBAGAI PERWUJUDAN RASA CINTA TANAH AIR INDONESIA


Saudari-saudara, umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang yang terkasih,

Pada 17 April 2019 mendatang, kita Bangsa Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan umum (pemilu) untuk memilih pasangan Presiden dan Wakil Presiden, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.

Pemilu merupakan salah satu sarana penting pelaksanaan kedaulatan rakyat. Oleh karena itu sikap meremehkan atau memanipulasi dan merekayasa proses dan hasil pemilu oleh pihak mana pun merupakan pelanggaran serius atas hak rakyat dan martabat warga negara, serta pada taraf tertentu dapat meniadakan kedaulatan rakyat itu sendiri.

Maka sebagai gembala umat di Keuskupan Agung Semarang ini, saya menyatakan bahwa umat Katolik harus berperanserta dan bertanggungjawab atas pemilu tersebut dengan menjadi pemilih yang beriman, cerdas, dan bijaksana sebagai perwujudan rasa cinta Tanah Air Indonesia. Demikian juga bagi yang terpanggil dan terlibat sebagai penyelenggara pemilu di berbagai tingkat harus menjalankan tugasnya dengan penuh tanggungjawab dan independen.

Menjadi pemilih beriman artinya menggunakan hak pilih secara benar-benar bebas dan berdasar hati nurani sebagai pertanggungjawaban serta perwujudan imannya. Menjadi pemilih cerdas artinya mampu menggunakan hak pilihnya berdasarkan analisa dan perhitungan yang cermat serta pengenalan yang cukup atas para peserta Pemilu. Sedangkan menjadi pemilih bijaksana artinya tidak mudah diombang-ambingkan oleh bermacam-macam godaan seperti transaksi jual beli suara, money politics (politik uang), janji-janji manis, maupun pengaruh lainnya yang mengakibatkan pribadinya tidak benar-benar bebas. Sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan pilihan hendaknya Anda mengikuti panduan pembelajaran memilih yang disampaikan oleh Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang (PK4AS).

Saudari-saudara yang terkasih,

Terdorong oleh rasa tanggungjawab kami di hadapan Tuhan, umat dan masyarakat, serta masa depan Bangsa dan Negara Indonesia, maka saya menyerukan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, semua umat di Keuskupan Agung Semarang yang sudah mempunyai hak pilih untuk tidak lari dari tanggungjawab menyukseskan pemilu sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Pilihan GOLPUT merupakan pilihan tidak bijaksana. Karena pilihan kita sangat menentukan bagi proses perjalanan bangsa ini 5 tahun ke depan dan selanjutnya. Kami memandang suara Anda sangat menentukan, karena satu suara Anda memiliki makna yang sangat besar bagi masa depan bangsa.

Kedua, kepada semua partai politik (parpol) dan para calon legislatif (caleg) serta pasangan calon Presiden-Wakil Presiden yang berkontestasi dalam pemilu ini supaya memegang teguh tatakrama dan aturan pemilu yang berlaku dengan kesadaran bahwa kesejahteraan rakyat adalah pegangan yang utama.

Ketiga, semua pihak yang turut serta dalam kampanye, supaya melakukan kegiatan kampanye dalam suasana kekeluargaan dan berdasarkan kesadaran, bahwa kita berkewajiban menjaga keutuhan Negara Kesatuan berdasarkan Pancasila; bukan sebaliknya saling menjelekkan, saling menjatuhkan, saling menghujat, saling memfitnah dan menyebarkan berita-berita bohong. Kampanye hendaknya dimanfaatkan sebagai bagian pendidikan politik untuk memperkenalkan visi, misi, serta program kerja dan untuk mencerdaskan masyarakat.

Keempat, hendaknya KPU dan Bawaslu beserta seluruh jajarannya sebagai penyelenggara pemilu memastikan menyelenggarakan pemilu serentak 2019 dengan menjunjung tinggi sifat hakikinya, yaitu langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (luber jurdil). Termasuk memastikan penyelenggara pemilu yang terikat pada kode etik penyelenggara pemilu guna menjunjung tinggi prinsip-prinsip pelaksanaan pemilu. Pemerintah dan aparat keamanan harus mencegah segala macam intimidasi dan ancaman dari manapun atau oleh siapapun juga kepada masyarakat pemilih dan para penyelenggara pemilu, baik yang bersifat paksaan fisik maupun moril, dan menghindarkan segala macam manipulasi serta perbuatan curang baik sebelum, selama maupun sesudah pemungutan suara.

Akhirnya, Saudari dan Saudaraku yang terkasih,

Kami mengajak Anda semua untuk meneruskan pendidikan politik dengan mengawal, mendampingi, mengingatkan, dan menuntut mereka yang kita pilih agar tetap berusaha mewujudkan keadilan sosial bagi semua. Mereka kita pilih bukan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, tetapi untuk kepentingan bersama bangsa.

Marilah kita jadikan pemilu ini peristiwa kebangsaan yang menggembirakan dan memerdekakan bukan menakutkan dan menciptakan ketidakpastian. Kami sungguh berharap bahwa cinta Tanah Air dan persaudaraan sebagai Bangsa Indonesia harus kita tempatkan di atas segala kepentingan pribadi dan kelompok/golongan. Aspirasi politik dan pilihan boleh berbeda, tetapi INDONESIA adalah kita.

Selamat menggunakan hak pilih Anda. Tuhan memberkati kita semua. Berkah Dalem.


Semarang, 5 Februari 2019


† Mgr. Robertus Rubiyatmoko
Uskup Agung Semarang

Jumat, 15 Februari 2019

Musik/nyanyian dalam Perayaan Pemberkatan Perkawinan

Pemberkatan perkawinan merupakan salah satu perayaan sakramen yang  sedapat mungkin dirayakan dalam bentuk yang dinyanyikan (Musicam Sacram [MS] 43). Alasan yang melatar-belakangi anjuran ini adalah pemberkatan perkawinan merupakan perayaan komuniter yang menekankan kehadiran dan partisipasi aktif dari umat. Maka, musik] nyanyian pedu mendapat perhatian penting dalam persiapan dan pelaksanaan pemberkatan perkawinan. Dengan memberikan perhatian pada musik dan nyanyian, perayaan pemberkatan perkawinan kiranya dapat menjadi perayaan yang agung dimana doa-doanya dapat diungkapkan secara lebih menarik dan misteri perayaannya dapat dinyatakan acara lebih jelas serta kesatuan hati umat dapat dicapai lebih mendalam dan diarahkan menuju haI-hal surgawi (bdk. MS 5).

Perayaan yang agung di atas, sayangnya sering diciderai dengan penggunaan sejumlah musik/nyanyian sekular. Tidak jarang terjadi, sejumlah musik/nyanyian rohani/pop rohani, bahkan nyanyian pop sekular dipergunakan dalam perayaan yang agung ini. Jenis: musik/nyanyian rohani atau pop rohani, kendati di dalamnya terkandung unsur religius, sesungguhnya bukanlah jenis musik dan nyanyian yang sesuai untuk diterapkan dalam perayaan pemberkatan perkawinan. Musik/nyanynan rohani/pop rohani tidak sejajar dengan nyanyian liturgi. 

Musik/nyanyian rohani adalah nyanyian yang diciptakan untuk kepentingan di luar peribadatan resmi Gereja… Musik/nyanyian ini normalnya ditujukan untuk kegiatan kegiatan rohani seperti retret, rekoleksi, kegiatan-kegiatan devosional, pertemuan-pertemuan katekese atau bahkan dalam acafa santai. Musik nyanyian rohani umumnya bersifat individual yang umumnya diwakili melalui syair “aku”. Ciri-ciri tersebut tentunya berbeda dengan musik/nyanyian liturgi, Musik/nyanyian liturgi adalah nyanyian yang diciptakan bagi kepentingan peribadatan resmi Gereja. Musik/nyanyian liturgi memiliki sifat komuniter/eklesial yang sering ditampakkan melalui ungkapan “kami/kita". Hal ini sejalan dengan sifat perayaan sendiri yang adalah komuniter/eklesial. 

 Hingga akhir tahun 2017, keberadaan nyanyian-nyanyian untuk pemberkatan perkawinan dalam buku-buku nyanyian yang dikeluarkan secara resmi memang sangat terbatas. Jika dilihat dalam buku Puji Syukur edisi induk. jumlah nyanyian yang diperuntukkan untuk pemberkatan perkawinan hanya '7 judul nyanyian sementara buku Madah Bakti hanya menyediakan 8 nyanyian perkawinan dengan tambahan 5 nyanyian inkulturatif. Kenyataan ini menunjukkan bahwa nyanyian perkawinan masih sangat minim. Kendati demikian, situasi tersebut bukan menjadi alasan untuk boleh dipergunakannya nyanyian “A Thousand Years” yang dipopulerkan oleh Christina Perri sebagai nyanyian pembuka dalam perayaan perkawinan atau nyanyian “Kasih-Nya seperti Sungai” sebagai pengganti Mazmur Tanggapan atau nyanyian “From This Moment” yang dipopulerkan oleh Shania Twain sebagai nyanyikan sebelum kedua mempelai menyatakan janji setianya. Ketiga nyanyian tersebut bukanlah nyanyian liturgi. Nyanyian “Kasih-Nya seperti Sungai” adalah nyanyian rohani yang tidak pernah dapat menggantikan Mazmur Tanggapan. Sementara nyanyian “A Thousand Years” dan “From This Moment" adalah nyanyian pop sekular yang tidak seharusnya dicomot dan disisipkan dalam pemberkatan perkawinan hanya demi memenuhi permintaan mempelai. Maka dari itu, kehadiran buku NLP sugguh: menjadi sarana yang dapat menambah khazanah nyanyian liturgi perkawinan da sekaligus menjadi acuan dalam memilih nyanyian yang tepat dalam perayaan pemberkatan perkawinan.

Catatan: artikel ini merupakan tema ke-6 dari bahan katekese pada Bulan Liturgi Nasional (BLN) 2018. 
Oleh RP. Cornelius Trichandra, OFMConv.

Selasa, 12 Februari 2019

Kongregasi Ibadat dan Tata-tertib Sakramen: Pengantar Redemptionis Sacramentum oleh Kardinal Francis Arinze

Instruksi Pelaksana VI tentang sejumlah hal yang perlu dilaksanakan ataupun dihindari berkaitan dengan Ekaristi Mahakudus. Dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat dan Tata-tertib Sakramen pada Hari Raya Kabar Sukacita kepada St. Perawan Maria, 25 Maret 2004  dapat dilihat melalui tautan berikut:

atau membeli bukunya di toko buku Katolik. 


Berikut kami bagikan lampiran pengantar Redemptionis Sacramentum yang tidak tersedia di web www.imankatolik.or.id , namun dapat dibaca pada buku Redemptionis Sacramentum.

LAMPIRAN:
Kongregasi Ibadat dan Tata-tertib Sakramen

PENGANTAR REDEMPTIONIS SACRAMENTUM

(tentang sejumlah hal yang perlu dilaksanakan ataupun dihindari berkaitan dengan Ekaristi Mahakudus)*

l. Asal Usul Instruksi Ini


Pertama-tama akan membantu apabila Instruksi ini didudukkan pada tempatnya. Dalam Misa Perjamuan Malam Terakhir pada hari Kamis Putih di Basilika St. Petrus, pada 17 April 2003, Bapa Suci menandatangani dan memberikan kepada Gereja ensikliknya yang ke-14, Ecclesia de Eucharistia.

Dalam dokumen yang bagus ini, Paus Yohanes Paulus II menyatakan, antara lain, bahwa Ekaristi Mahakudus ada pada pusat kehidupan Gereja (No. 3), bahwa Ekaristi menyatukan surga dan bumi. Ekaristi merangkul dan meresap pada semua ciptaan (No. 8), dan Ekaristi adalah milikyang paling berharga yang dapat dipunyai Gereja dalam perjalanannya sepanjang sejarah (No. 9).

Sekaligus Paus menyatakan bahwa sejak Konsili Vatikan kedua ada perkembangan positif dan negatif dalam perayaan dan ibadat (No. 10), bahwa sejumlah penyelewengan telah menjadi sumber penderitaan bagi banyak orang dan Sri Paus menganggap itu sebagai kewajibannya untuk menyerukan dengan segera bahwa norma-norma liturgi untuk perayaan Ekaristi ditaati dengan sangat teliti (No. 52). Justru untuk lebih menandaskan makna lebih mendalam norma=norma liturgi ini, lanjutnya, Saya telah meminta lembaga yang berwewenang dari Kuria Roma untuk menyiapkan suatu dokumen yang lebih khusus, termasuk ketentuan-ketentuan yuridis mengenai masalah yang sangat penting ini. Tidak seorang pun diperkenankan merendahkan misteri yang dipercayakan pada kita: misteri ini terlalu agung bagi siapa pun untuk leluasa memperlakukan Ekaristi dengan sembarangan serta mengabaikan kesucian dan keuniversalannya (No. 52).

Inilah asal usul dari lnstruksi yang dipersembahkan kepada Gereja Latin oleh Kongregasi Ibadat dan Tata-tertib Sakramen dalam kerja samanya yang erat dengan Kongregasi Ajaran Iman.

2. Alasan-alasan untuk Norma-norma Liturgi

Seseorang mungkin bertanya mengapa harus ada normanorma liturgi. Apakah kreativitas, spontanitas, kebebasan anak-anak Allah serta pengertian yang sangat baik tidaklah cukup? Mengapa penyembahan kepada Allah harus diatur oleh rubrik-rubrik dan peraturan-peraturan? Apakah tidak cukup kalau hanya mengajarkan kepada umat keindahan dan keagungan liturgi?

Norma-norma liturgi perlu karena dalam liturgi dilaksanakan kebaktian umum seutuhnya oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yakni oleh Kepala dan anggotasanggotanya. Oleh sebab itu, setiap perayaan liturgi, sebagai karya Kristus selaku kepala dan karya Gereja selaku tubuh-Nya, adalah tindakan kudus yang paling utama (Konstitusi Liturgi, No. 7). Dan puncak liturgi adalah perayaan Ekaristi. Tak seorang pun perlu terkejut apabila, dalam perjalanan waktu, Bunda Kudus, Gereja, telah mengembangkan kata-kata dan tindakan-tindakan, dan juga arahan-arahan, bagi sikap penyembahan yang agung. Normanorma Ekaristi dimaksudkan untuk mengungkapkan dan melindungi misteri Ekaristi dan juga menjelaskan bahwa Gerejalah yang merayakan sakramen dan pengorbanan yang agung. Sebagaimana yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II, norma-norma ini adalah ungkapan konkret dari kodrat gerejawi otentik mengenai Ekaristi; inilah maknanya yang terdalam. Liturgi tak pernah menjadi milik pribadi perorangan, baik dari selebran maupun komunitas, tempat misterimisteri dirayakan (Ecclesia de Eucharistia, No. 52).

' Hal ini berarti bahwa para lmam yang merayakan Misa dengan setia seturut norma-norma liturgi, dan komunitas-komunitas yang mengikuti norma-norma itu, dengan tenang namun lantang memperagakan kasih mereka terhadap Gereja (Ibid.).

Jelaslah bahwa penyesuaian lahiriah tidak cukup. Iman, harapan dan kasih yang juga terungkap dalam tindakan solidaritas terhadap kaum miskin dituntut lewat partisipasi dalam Ekaristi Mahakudus. Instruksi ini menggarisbawahi dimensi ini dalam artikel 5: Ketaatan lahiriah melulu terhadap norma-norma tentu saja bertentangan dengan semangat Liturgi Suci, di dalamnya Kristus sendiri ingin mengumpulkan Gereja-Nya sedemikian rupa, sehingga bersama dengan-Nya, Gereja itu merupakan satu tubuh dan satu roh. Karena itu, pun tata cara lahiriah harus diterangi oleh iman dan kasih, melaluinya kita dipersatukan dengan Kristus dan satu sama lain; melaluinya juga kita memupuk cinta akan orang yang miskin dan tersingkir.

3. Pentingkah Memberi Perhatian pada Penyelewengan-penyelewengan?


Suatu kelompok godaan yang harus dilawan adalah anggapan bahwa menaruh perhatian terhadap penyelewengan-penyela wengan liturgi hanyalah membuang-buang waktu saja. Ada orang yang menulis bahwa penyelewengan selalu ada dan akan selalu ada, karena itulah kita harus bertahan pada pendidikan dan perayaan liturgi yang positif.

Keberatan ini, sebagian benar, tetapi dapat juga agak menyesatkan. Semua penyelewengan mengenai Ekaristi Mahakudus tidak sama bobotnya. Ada yang mengancam keabsahan Sakramen. Ada yang merupakan perwujudan kekurangan dalam iman akan Ekaristi. Ada pula yang membingungkan umat Allah serta menambah desakralisasi yang meningkat dalam perayaan Ekaristi. Anggapan-anggapan tersebut tidak dangkal.

Tentu saja pendidikan liturgi sangat diperlukan dalam Gereja. Dari sebab itu sangatlah perlu, kata Konsili Vatikan II, bahwa pertama-tama pendidikan liturgi para klerus dimantapkan (Konstitusi Liturgi, No. 14). Namun adalah benar juga bahwa di banyak bagian dari Gereja, telah terjadi juga penyelewenganpenyelewengan, sampai membingungkan iman yang sehat dan ajaran Katolik mengenai sakramen mengagumkan ini (Ecclesia de Eucharistia, No. 10). Tak jarang penyelewenganpenyelewengan itu bersumber pada salah pengertian mengenai makna kebebasan (Instruksi, No. 7). Perbuatan-perbuatan yang sewenang-wenang itu bukannya jalan menuju pembaruan yang sejati (Instruksi, No. 11) yang diharapkan oleh Konsili Vatikan II. Penyelewengan-penyelewengan tersebut tidak ada hubungannya dengan semangat otentik dari Konsili gerta harus diperbaiki secara bijaksana dan sungguh-sungguh oleh para pastor (Paus Yohanes Paulus II: Surat Apostolik dalam rangka Peringatan 40 tahun Konstitusi Liturgi, Spiritus etSponsa, No. 15)

Bagi mereka yang mengubah teks-teks liturgi atas wewenangnya sendiri, perlu untuk memperhatikan Instruksi ini bahwa Liturgi Suci berhubungan erat dengan dasar-dasar ajaran iman, sehingga penggunaan teks-teks dan tata cara yang tidak disahkan, dengan sendirinya akan menyebabkan merosotnya ataupun hilangnya hubungan yang mutlak perlu antara Iex orandi (hukum doa) dan Iex credendi (hukum iman) (Instruksi, No. 10).

4. Ikhtisar dari Instruksi

Instruksi ini terdiri dari Pengantar, delapan bab isi, dan kesimpulan.

Dalam bab pertama tentang peraturan Liturgi Suci dibicarakan mengenai peranan Takhta Apostolik, Uskup Diosesan, Konferensi para Uskup, para Imam dan para Diakon. Saya mengkhususkan peranan Uskup Diosesan. Ia adalah Imam besardi antara kawanannya. Ia memberikan arahan, dorongan, mengembangkan serta mengatur. Ia memantau musik kudus dan seni. Ia membentuk komisi-komisi yang diperlukan untuk liturgi, musik dan kesenian kudus (Instruksi, No. 22, zs). la mengupayakan pemulihan atas penyelewengan-penyelewengan dan kepada beliau atau pembantunyalah pertamatama harus memberikan pertolongan, dan bukannya kepada Takhta Apostolik (Instruksi, No. 176-182, 184).

Para Imam juga membuat janji untuk menjalankan jabatan mereka dengan setia, sebagaimana halnya para Diakon. Mereka diharapkan untuk hidup sesuai dengan tanggung jawab suci mereka.

Bab kedua mengkhususkan partisipasi umat awam dalam Perayaan Ekaristi. Pembaptisan adalah landasan bagi imamat umum (Instruksi, No. 36, 37). Namun, Imam yang ditahbiskan tetap sangat diperlukan dalam suatu komunitas Kristiani; dan peranan Imam dan umat awam tidak boleh dikacaukan (Instruksi, No. 42, 45). Umat awam memiliki peranan mereka pada tempatnya. Instruksi menekankan bahwa hal ini tidak berarti bahwa setiap orang harus melakukan sesuatu. Hal ini lebih merupakan suatu persoalan untuk menjadi sungguhsungguh hidup sesuai dengan hak-hak istimewa yang telah diberikan Tuhan yang memanggil mereka untuk berpartisipasi dengan budi dan hati serta seluruh kehidupan mereka dalam liturgi agar melalui ini mereka menerima rahmat Tuhan. Penting untuk memahami hal ini dengan benar dan jangan menganggap bahwa Instruksi ini semata-mata mengabaikan umat awam.

Bab 3, 4, 5 mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kadang-kadang diajukan dan untuk memusatkan perhatian pada penyelewengan-penyelewengan yang ada sehubungan dengan perayaan Misa yang sesungguhnnya, mengenai siapa yang menerima Komuni Kudus dan siapa yang tidak, himbauan pada saat menerima Komuni Suci dalam dua rupa serta masalah mengenai jubah dan bejana-bejana, posisi tubuh pada saat menerima Komuni Suci dan semacamnya.

Bab 6 adalah mengenai penyembahan Ekaristi Mahakudus di luar Misa. Hal ini mengenai penghormatan kepada tabernakel serta praktik-praktik seperti kunjungan-kunjungan ke Sakramen Mahakudus, Kapel sembah sujud abadi, dan Prosesi Ekaristi serta Kongres Ekaristi (Instruksi, No. 130, 135-136,140,142-145).

Bab 7 memberikan perhatian kepada lembaga khusus yang dipercayakan kepada kaum awam, seperti para pelayan tak lazim kaum awam untuk Komuni Suci, para pelatih atau pemimpin pelayanan doa pada saat tidak ada Imam (Instruksi No. 147-169). Peranan-peranan ini berbeda dari yang diutarakan pada Instruksi bab 2. yang mengutarakan keterlibatan biasa kaum awam dalam liturgi, dan khususnya dalam perayaan Ekaristi. Bab 7 ini memuat hal-hal yang berkaitan dengan umat awam yang terpanggil untuk melayani di saat Imam atau Diakon tidak ada. Pada tahun-tahun belakangan ini, Takhta Suci telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap masalah ini, dan Instruksi ini turut mendukung seraya menambahkan pertimbangan-pertimbangan lebih jauh dalam situasi tertentu.

Bab terakhir mengenai tindakan-tindakan pemulihan kanonik terhadap kejahatan-keiahatan atau penyelewengan-penyelewengan terhadap Ekaristi Mahakudus. Tindakan pemulihan utama untuk jangka panjang adalah pendidikan dan petunjuk yang benar serta iman yang teguh. Namun, ketika penyelewengan-penyelewengan terjadi, maka Gereja berkewajiban untuk mengingatkan mereka dalam cara yang jelas dan murah hati.

Kesimpulan

Memperhatikan artikel mengenai iman bahwa Misa adalah representasi sakramental dari Kurban Salib (bdk. Konsili Trente DS 1740) dan bahwa dalam Sakramen yang mahasuci, yaitu Ekaristi, Tubuh dan Darah, bersama dengan jiwa dan raga Tuhan kita Yesus Kristus, sehingga Kristus secara utuh adalah benar, nyata dan sungguh-sungguh ada (Konsili Trente: DS 1651; bdk. KHK 1374), jelaslah bahwa norma-norma liturgi sehubungan dengan Ekaristi Mahakudus layak mendapatkan perhatian kita. Norma-norma tersebut bukanlah mbrika rubrik sembarangan yang didikte oleh pikiran bengkok secara hukum.

Ekaristi Mahakudus memuat seluruh kekayaan rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri, roti kita yang telah wafat namun hidup (Presbyterorum Ordinis, 5). Para Imam dan Uskup ditahbiskan terutama untuk merayakan kurban Ekaristi dan mempersembahkan Tubuh dan Darah Kristus kepada orang beriman. Para Diakon, dengan caranya sendiri, akolit, pelayan-pelayan lain, lektor, paduan suara dan umat awam yang ditugaskan secara khusus diingatkan kembali untuk membantu dalam tugas-tugas tertentu. Mereka harus melaksanakan pelayanan mereka yang beragam dengan iman dan devosi. '

Karena itu, Instruksi menyimpulkan bahwa Kongregasi Ibadat dan Tata-tertib Sakramen berharap bahwa dengan menerapkan secara saksama segala sesuatu yang diingatkan dalam Instruksi ini, kelemahan manusiawi semakin tidak lagi menjadi rintangan bagi penghayatan Sakramen Mahakudus itu, dan bahwa dengan meng-hindarkan segala penyelewengan dan praktik yang salah, berkat pengantaraan Santa Perawan Maria, Bunda Ekaristi, kehadiran Kristus dalam Sakramen Tubuh dan Darah-Nya yang menyelamatkan itu, akan menyinari semua orang (Instruksi, No. 185).

Kardinal Francis Arinze 23 April 2004 


* Diterjemahkan oleh Maxi Paat dari artikel: Introducing 99 Redemptionis Sacramentum (On certain matters to be observed or to be avoided regarding the Most Holy Eucharist). Artikel ini diambil dari: http://www. vatican.va/roman_curia/congregations/ccdds/documents/rc_con__ ccdds_doc_20040423_present-card-arinze__en.html

Selasa, 04 September 2018

HOMILI MINGGU BIASA XXI TAHUN B: Gerbang neraka tidak akan menang melawan Gereja! (lih. Mat 16:18)

 MINGGU BIASA XXI TAHUN B - 26 Agustus 2018
Yos. 24:1-2a,15-17,18b; Mzm. 34:2-3,16-17,18-19,20-21,22-23; Ef. 5:21-32; Yoh. 6:60-69.

Yesus bukan orang yang suka kata-kata.
  
Kita melihat ini dengan jelas di sini pada Injil Yohanes Bab 6. Ketika kelompok besar — mungkin mayoritas pengikut-Nya — menyadari bahwa Yesus tidak berbicara secara simbolis ketika Dia menyebut “Daging dan Darah-Nya” (bdk. Yoh 6:54) “sungguh makanan dan minuman sejati” (lih. Yoh 6:55) di mana para pengikut-Nya harus “makan dan minum untuk memiliki kehidupan yang kekal ” (lih. Yoh 6: 53-54) — mengapa mereka melakukannya? Injil mengatakan kepada kami:

Sebagai hasil dari [pengajaran] ini, banyak dari murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti-Nya . (Yoh 6:66)

Dalam Injil Yohanes, Bab 6, ayat 66 . Apakah kamu menangkap itu? Yohanes 6 ... 6 ... 6!

Angka Setan .

Setan penabur keraguan . Setan penabur pertentangan .
   
Setan berhasil memisahkan Gereja, kemudian — bahkan ketika Yesus sendiri berdiri di sana dan menontonnya dengan mata-Nya sendiri sebagai manusia. Iblis mencapai prestasi ini dengan meyakinkan sebagian besar kawanan domba untuk menolak “perkataan keras” Yesus (lih. Yoh 6:60). Dan sang musuh itu bekerja lebih keras hingga hari ini untuk memisahkan Gereja lagi ... dengan atau tanpa disadari, atau dalam beberapa kasus tragis, kehendak untuk bersedia bekerja sama dengan para gembala yang tidak bermoral dan imam yang bejat .

Tidak ada kekurangan pendapat — di semua tingkat Gereja (Umat Allah) - tentang apa yang menyebabkan skandal pelecehan yang menjerat kitalagi — sebagai Gereja (Umat Allah).
    
Di dalam Gereja, di antara alasan paling umum yang diberikan untuk krisis ini adalah homoseksualitas dalam kehidupan imam di salah satu ujung spektrum - dan klerikalisme yang lain. Faktanya bahwa kedua penyebab ini dianggap, sebagai bagian besar, di ujung spektrum yang berlawanan oleh faksi berpengaruh tertentu di eselon atas Gereja adalah letak tepat permasalahannya, sebagaimana yang akan kita lihat hanya dengan sedikit pemikiran kritis.

 Secara alami, kita akan mengharapkan dunia sekuler untuk menolak setiap saran itu, homoseksualitas adalah bagian besar dari kejahatan ini yang menjangkiti Gereja, terlepas dari kenyataan itu laporan tahun 2004 oleh lembaga sekuler - John Jay College of Criminal Justice - mengungkapkan bahwa 81% dari korban kekerasan seksual para imam di mana anak laki-laki melewati usia masa pubertas.

 Dunia sekuler, yang mempromosikan homoseksualitas sebagai "kebaikan positif", bukan pilihan tetapi untuk "memutar" skandal pelecehan-pelecehan seks sebagai masalah utama pedofilia anak-anak untuk mengalihkan perhatian dari kebenaran yang menatap mereka di wajah, agar agenda homoseksual mereka tidak akan dirusak oleh kebenaran. Sayangnya, mereka berhasil menipu sebagian besar populasi dengan penyebutan "pedofilia" apa yang sebenarnya ... dan ... terutama wabah homoseksualitas dalam imam Katolik.

 Kaum sekuler juga meyakinkan banyak orang di dalam Gereja menguburkan kepala mereka dalam pasir. Akibatnya, masih ada banyak — termasuk beberapa di tingkat tertinggi Hirarki Gereja — yang masih menyangkal fakta-fakta yang menatap wajah mereka — mungkin untuk takut di cap homophobic dan kehilangan pengaruh mereka, ketenaran, popularitas atau kekuasaan; atau mungkin karena mereka sendiri mendukung ... atau sebagian dari ... subkultur homoseksual pada imam yang tidak dapat disangkal keberadaannya di sana.

 Klerikalisme dengan sendirinya, adalah argumen yang sama sekali, sejauh ini tidak meyakinkan mereka para kardinal yang mulia, dan orang-orang di tempat mereka, yang paling sering dikutip klerikalisme sebagai pelaku utama jika bukan satu-satunya pelaku dalam skandal itu, dengan sengaja dan secara konsisten menghilangkan setiap kutukan serius terhadap imoralitas seksual dari klaim mereka yang sama. Mereka berpaling dari yang jelas ... dan mereka terlihat seperti orang bodoh dalam prosesnya.

  Tepat semacam itu adalah pembiaran yang terang-terangan terhadap yang sudah jelas — penolakan itu untuk mengakui fakta-fakta di depan mereka — yang menghancurkan kredibilitas kardinal tertentu, uskup agung dan imam di dalam Gereja ... dan yang merendahkan otoritas moral kami — dan mereka untuk menginjili di luar Gereja.

Menyalahkan klerikalisme tanpa mengakui pelanggaran berat moralitas seksual Katolik adalah persis seperti "PR spin" (penyesatan publik) bahwa umat Katolik yang setia dan non-Katolik sangat sakit karena mendengar dari hierarki. Itu membuat Gereja terlihat sama sekali tidak serius dalam memberantas kejahatan ini dari tengah-tengahnya


 Jauh lebih bermanfaat untuk mengambil pendekatan secara Katolik klasik “kedua / dan”. Itu bukan hanya homoseksualitas — meskipun, hal itu jelas sekali... dan kebanyakan mengenai itu. Dan itu bukan hanya klerikalisme. Faktanyatelah didefinisikan dengan tepat — Klerikalisme sebenarnya bisa lebih dekat ke akar masalah daripada homoseksualitas.

Kata kuncinya: Ditentukan dengan benar ...

Jika berdasarkan klerikalisme, kardinal ini berarti generasi imam yang lebih muda — kelompok yang termasuk saya — yang menghargai komitmen sejati pada kesucian pribadi, liturgi indah, Pengakuan yang sering bagi diri sendiri dan kawanan mereka, setia dan patuh terhadap semua ajaran Gereja — dan tentu saja “perkataan yang keras” dari hukum moral - lalu saya meminjam kata-kata Yesus kepada orang-orang Saduki, dan dengan hormat tunduk pada keunggulan dan kemuliaan mereka - Anda sangat disesatkan (lih. Mrk 12:27)


 Tetapi jika, dengan klerikalisme, Anda berarti (mereka) para kardinal, uskup agung, uskup, imam, dan diakon, yang berani dan sengaja menabur benih-benih perbedaan pendapat dan menyebabkan umat beriman untuk tidak mempercayai ajaran Gereja mereka sendiri; atau, siapapun, jika tidak melakukan pelanggaran spiritual dan seksual secara langsung, berdiri dengan malu-malu seperti "manusia tanpa kehormatan" dan tidak mengambil tindakan ketika mereka menyaksikan penghancuran kejam ini ... jika begitu maksudmu, maka aku berdiri bersamamu - (dengan) keunggulan dan kemuliaanmu — dalam menyatakan bahwa klerikalisme dari jenis itu sebenarnya lebih dekat dengan inti penyebab utama skandal itu daripada penyimpangan seksual.Tetapi kita perlu mengambil satu langkah lebih jauh. Kita tidak boleh berhenti hanya menamai masalah sebagai klerikalisme. Kita harus membantu umat Allah untuk melihat apa yang sebenarnya klerikalisme terlihat sebagai bentuk terpendam yang harus diwaspadai, belum sepenuhnya dikembangkan, sehingga mereka dapat melihatnya, dan mengatakan sesuatu tentang itu, sebelum hal itu berkembang menjadi tumor spiritual yang mengkonsumsi bagian anggota  tubuh yang paling lemah, paling tidak bersalah dan paling rentan dari Tubuh Kristus,  sebagaimana yang  dilakukan dalam skandal pelecehan seks.

 Kita harus memotong kanker pertentangan ini di stadium 1 ketika masih bisa diobati, daripada menunggunya sampai mencapai stadium 4 — lagi — jadi kita terpaksa berurusan dengan penyakit yang sama, yaitu skandal seks — lagi — enam belas tahun dari sekarang! 

Sebelum kita mempertimbangkan seperti apa klerikalisme sesungguhnya dalam tahap awal, ada baiknya untuk stop di sini dan ingat kata-kata lain yang Yesus ucapkan dalam Yohanes, Bab 6:4. Bagian Injil hari ini berakhir pada ayat 69. Tetapi inilah yang Dia katakan pada dua ayat terakhir dari Bab 6 — ayat 70 dan 71

  "Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis." Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu." (Yoh 6:70-71)


Saya bukan seorang sarjana Kitab Suci, tetapi saya cukup yakin bahwa kejadian ini terjadi pada tahun kedua dari pelayanan publik Yesus selama tiga tahun. Itu berarti bahwa Yudas, pada saat ini, cukup jauh menjual jiwanya kepada Setan, setelah bersama Yesus kurang lebih selama setahun. Yesus berkata di sini bahwa salah satu dari para Rasul “adalah” iblis — bukan “akan menjadi” iblis. Tetapi beberapa waktu masih akan berlalu sebelum Yudas bertindak atas kejahatan yang telah mengakar dalam jiwanya — sebelum menjual Juruselamatnya dengan sekantong koin perak. Itu akan menjadi pelajaran untuk melihat interaksi awal dalam "kekuatan/­gerakan menyerang kerasulan" Yesus, sebab kita mungkin bisa menentukan titik balik dalam Yudas - di mana dan ketika dia mulai mengkhianati Yesus dengan beberapa hal-hal kecil. Kita tahu bahwa dia sering mencuri uang dari kantong uang (lih. Yoh 12: 6). Mungkin itu dimulai di sana — dengan keserakahan. Mungkin itu dimulai dengan percakapan santai dengan teman-teman politiknya yang meyakinkannya bahwa Yesus terlalu "spiritual" dan tidak cukup sebagai "aktivis". Di mana pun dan bagaimana pun  hal itu dimulai, itu adalah tindakan kecil dan rahasia Yudas dari ketidaksetujuan dan ketidakpatuhan dimana berubah menjadi pengkhianatan paling kejam dan tidak adil dalam sejarah manusia.
      Hal yang sama berlaku untuk "Yudas" modern dalam imamat dan keuskupan hari ini - khususnya mereka yang menyalahgunakan kawanan mereka dan mereka yang memungkinkan pelaku pelecehan untuk melanjutkan pembantaian mereka dan kemudian menutupi jejak mereka untuk mereka. Seseorang harus berharap bahwa, para imam yang bejat ini setidaknya telah mengikuti Yesus pada awalnya karena mereka merasakan panggilan panggilan — untuk mengikuti-Nya. Tetapi di suatu tempat di sepanjang jalan, mereka mulai untuk mengindahkan panggilan Iblis dan menyerah, sedikit demi sedikit — sebuah pengkhianatan kecil yang dilakukan di sini ... kebebasan tidak senonoh yang diambil di sana.

Mungkin itu dimulai dengan Misa. Mungkin Romo Iskariot percaya dia bisa membuat Misa lebih relevan dengan bermain kata-kata Misa ... tetapi hanya sedikit. Mungkin dia, bisa lebih populer, jika dia menghapus doa-doa Misa dan kata-kata dari Kredo dari kata ganti
“sifat kebapaan” yang sangat opresif seperti “Bapa” ... atau "Putra". Mungkin dengan menambahkan hanya satu kata— "seorang", dia mampu memikat dirinya setara dengan 5 orang untuk para wanita di paroki, menunjuk dirinya sebagai juara mereka, penyokong mereka, dengan mengatakan bahwa Yesus menjadi “ seorang manusia” dan bukan “manusia”.      
    
   Mungkin itu tidak berhenti dengan Misa. Mungkin kebebasan yang diambil oleh Pater Iscariot di mimbar dan altar diperluas ke nasihat yang dia berikan kepada pasangan yang sudah menikah. Mungkin itu pasangan yang sudah menikah yang mempunyai  tiga atau empat anak yang masih sangat kecil  dan yang merasakan bahwa  anak lain sekarang mungkin menghancurkannya. Mungkin itu  "Pastoral" Pater Iscariot  menyarankan  untuk pasangan seperti mereka bahwa: 

 “Dalam kasus anda (mengedipkan mata), tidak apa-apa menggunakan alat kontrol kelahiran karena aturan Gereja yang kuno terlalu membebani dan perlu diubah pula!”. 
    
Atau mungkin ketika Pater Iscariot sedang melakukan persiapan pernikahan dan bertemu dengan pasangan muda yang hidup bersama sebelum menikah dia memberi tahu mereka, “Ya, itu adalah kenyataan ... selama kamu mencintai satu sama lain, tidak masalah. 
  
     Jika dia mau mengkhianati Yesus dengan cara-cara sekecil itu, dapatkah kita sungguh kaget ketika Pater Iskariot akhirnya memberanikan diri keluar secara seksual dengan seorang pacar laki-lakinya atau seorang pacar perempuannya, atau Tuhan melarang, laki-laki atau perempuan?
   
Dapatkah kita tidak mengerti sekarang, mengapa dia tidak merasa benar-benar mampu memegang umat parokinya sendiri untuk sebuah standar kekudusannya pada saat itu, ya, terlalu sulit baginya? Dan bagaimana dia bisa menjadi seorang Farisi dan mengikatkan beban yang berat pada kawanannya sehingga dia tidak mau memikulnya sendiri? 
  
Sekali lagi, kata-kata Yesus memotong tepat ke jantung masalah:
            
 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Lukas 16:10)

  Hal ini sangat diragukan bahwa pelaku pelecehan dan yang mampu melakukan pelecehan tersebut memulainya sejak hari 1 sebagai pelaku pelecehan dan yang mampu melakukannya.Tetapi mereka tidak ragu telah memulai sebagai pengkhianat sejak awal mula. Dan semakin cepat kita memanggil mereka atas ketidakpatuhan kecil yang mereka lakukan, kesempatan lebih baik yang kita miliki untuk mencegah yang kemudian, tragedi pembunuhan yang tak terhindarkan dari orang yang tidak bersalah.Tetapi jika kita mendukung perselingkuhan kecil mereka khususnya ketika mereka membenarkan perselingkuhannya sendiri, dan mendorong mereka untuk melanjutkan, kemudian kita berbagi, sampai taraf tertentu, dalam kekacauan yang mereka buat pada jiwa yang tidak berdosa.
     
Ada pepatah lama di Gereja Katolik:
        

   Jika pastor paroki adalah orang kudus, umatnya akan menjadi suci; jika pastor itu suci, tapi belum menjadi orang kudus, umatnya akan baik; jika dia baik, umatnya akan penurut, dan jika dia penurut, umat parokinya akan menjadi buruk. Dan jika pastor itu sendiri jahat, umatnya akan pergi ke Neraka.
   
Saudara-saudaraku, ada lebih banyak yang dipertaruhkan di sini daripada di mana imammu jatuh pada spektrum antara progresif dan tradisional,  antara liberal dan konservatif.
  
   Seorang imam yang mencintai anda, seorang imam yang adalah Bapa sejati, selalu ingin membimbing anda ke surga. Dan imam yang baik tidak akan mengatakan kepadamu sesuatu yang berbahaya untuk  jiwamu. 

 Seorang imam yang jatuh secara moral, di sisi lain, entah karena narsisnya, atau karena ketidakamanan pribadinya, atau lebih buruk lagi, karena dia merasa sangat bersalah tentang  ketidaksetiaannyakehidupan rahasianya sendiri,  pengkhianatannya sendiri terhadap Yesus secara sembunyi-sembunyi,  bahwa dia tidak merasa benar menantang anda untuk mengikuti Yesus yang sama,  yang dia sendiri telah menolak dan berkhianat ... imam seperti itu tidak akan memiliki masalah untuk  mengorbankan jiwa kawanan dombanya, karena dia tidak menghargai jiwanya sendiri. Dan dia adalah tangan setan, ini sebuah  kemenangan ganda!
 

   Bentuk rohaniwan yang paling murni dan paling kejam adalah ketidakpatuhan yang disengaja pada janji-janji yang dibuat seorang manusia pada saat tahbisannya untuk menjadi Kristus yang lain, Alter Kristus— bukan alternatif untuk Kristus. 

 Jika imam anda, atau uskup, atau kardinal mengatakan dan melakukan hal-hal seperti itu, maka dia menempatkan jiwa anda dalam bahaya, tidak peduli seberapa "lembut", bagaimana "penyambutan", bagaimana "Pastoral"nya, dia mungkin berpura-pura. Hanya sebagai seorang “imam Yudas” yang dengan rela berjalan di jalan setapak menuju neraka, dan hanya ingin mengambil jiwa lain bersamanya.
  
  Tak seorang pun harus kaget, kemudian, bahwa penipu ini sering paling kharismatik, paling populer, merasa imam paling “tegas”, yang bangku-bangkunya sudah penuh pada akhir pekan dan dompet parokinya (uang kolekte) menjadi gemuk dengan uang tunai ? Saya telah kehilangan bagaimana caranya banyak korban pelecehan menggambarkan pengusung mereka sebagai "laki-laki" yang mempesona semacam ini.   
    
 Apa yang dikatakan St. Paulus tentang pengkhianat seperti itu?
 

 Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka. (2Kor 11:13-15)
Jika kita benar-benar ingin menyelesaikan masalah pelecehan seksual di Gereja; jika kita benar-benar ingin membersihkankan Gereja dari wabah setan ini; jika kita benar-benar serius melindungi yang tidak berdosa dan rentan dari bahaya oleh klerus yang jahat, maka kita harus melakukan untuk mengatasi kekhawatiran tentang nama-nama siapa (pelaku) yang mungkin kita sebut ... dan lakukan sesuatu yang benar. Kita harus menuntut imam yang tidak setia menghentikan semua pelecehan spiritual terhadap kawanan mereka, sebelum menjadi pelecehan seksual.
  
 Dan jika mereka tidak berhenti, atau mundur secara sukarela, maka kita harus melakukan usaha apa pun lamanya dalam ranah keadilan untuk menghentikan mereka. 
Untuk melakukan hal yang benar, kita harus menamai masalahnya apa adanya, dan belajar mengenali kemunculannya sebelum dapat melakukan kerusakan yang paling serius.
  
Hal ini jauh lebih baik untuk mendengar budaya memanggil kita “homofobia” daripada mendengar Yesus berkata, Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!(lih. Mat 7:23) ketika kita berdiri di hadapan-Nya di pengadilan. Para pelaku pelecehan dan mereka yang dapat melakukannya jelas sekali tidak percaya akan pengadilan Yesus. Mereka bukan apa-apa tapi atheis dalam pakaian imam.
    
Dalam Injil hari ini, setelah ditinggalkan oleh banyak muridnya:

Yesus kemudian berkata kepada duabelas murid-Nya, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (Yoh 6:67)

Baru minggu lalu saya bertanya pada diri sendiri untuk pertama kalinya ketika sedang bermeditasi pada ayat ini dalam Yohanes, Bab 6: 


Apa yang akan terjadi jika Yudas mengaku kepada Yesus, dan dia akan menjadi seperti apa, dan memohon Yesus untuk menyelamatkannya; atau pergi bersama kelompok orang yang setidaknya punya integritas untuk  bersikap dengan cara yang konsisten dengan  ketidakpercayaan mereka? 

Kembali ke topik awal: Apa yang akan terjadi jika para pelaku pelecehan melakukan hal yang sama?
      

 Bentuk rohaniwan yang paling buruk, paling kejam, bentuk yang paling jahat dari klerikalisme adalah imam, uskup, Uskup agung atau kardinal tinggal di Gereja dan dengan sengaja menyalahgunakan otoritas yang diberikan kepadanya oleh Kristus ketika dia sendiri bahkan tidak percaya dan tunduk pada apa yang Gereja ajarkan. Semangatnya sendiri bertentangan yang adalah pakta bunuh diri dengan setan dan sebuah surat kematian bagi jiwa-jiwa yang mengikuti jejak kotornya.
 
Monster seperti itu mungkin mengatakan dia percaya apa yang diajarkan Gereja. Tetapi umat Allah tidak bodoh! Jika dia mengkotbahkan pertentangan; menjajakan racunnya dalam buku atau pidato; pergi ke "pinggiran" untuk tidak membawa kembali domba yang hilang, tetapi untuk menegaskannya dalam dosa mereka; atau lebih buruk lagi, hidup yang dirahasiakan, kehidupan seksual yang kotor dan menjijikkan yang mengalir dari yang bertentangan dengan hatinya, dan membuat kekacauan tidak hanya pada tubuh yang tidak bersalah, tetapi juga pada jiwa-jiwa tak berdosa, maka Allah menolong jiwanya saat ia meninggal dari kehidupan ini ke kehidupan berikutnya.

        
Mari kita lihat ... dan mari kita katakan ... dengan jelas:

Akar penyebab utama dari skandal pelecehan seks imam adalah semangat yang disengaja dari pertentangan ajaran-ajaran Kristus, sebagaimana dijaga oleh Gereja-Nya, dan ketidakpatuhannya itu, dibiarkan tak terkendali, secara alami dan tak terelakkan mengalir dari pertentangan ... ke penghancuran besar tubuh dan jiwa yang tidak bersalah. Sampai kita bersedia menyebut kanker ini apa adanya, dan menerima konsekuensi yang keras membasmi masalah itu, hanya mengenai masalah waktu sebelum hal itu muncul ke permukaan lagi.

      
Gerbang neraka tidak akan menang melawan Gereja (lih. Mat 16:18). Yesus menjanjikan semua itu. Tetapi tidak ada tempat di mana Dia berjanji bahwa tidak akan ada kerugian besar jiwa-jiwa dalam perselisihan itu. Semua itu karena kesetiaan kepada Yesus ... terserah kepada setiap orang. 

  
 Kami melakukannya dengan sangat baik untuk memperingatkan teguran yang serius dari bacaan pertama Yosua hari ini:

     Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.  Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yos 24: 14-15)




RD. John Lankeit

Imam Diosesan Keuskupan Phoenix, Arizona

 

Rabu, 15 Agustus 2018

MADAH KEMULIAAN: Lima tindakan umat di hadapan Kemuliaan yang besar

Dalam madah Kemuliaan ditunjukkan lima tindakan umat di hadapan kemuliaan Allah yang besar: memuji, meluhurkan, menyembah, memuliakan, dan bersyukur. Kelima tindakan ini termuat dalam salah satu kitab Deuterokanonika, yaitu Kitab Tambahan Daniel (3:51-90) yang memuat madah pujian Azarya dan kedua sahabatnya kepada Allah ketika berada di dalam tanur api. Apa maksud dari kelima tindakan tersebut?

- Memuji (Latin: laudare; Ibrani: Hallel, bdk. 1 Taw 29:12-13). Memuji Allah berarti melambungkan pujian atas dasar rasa kagum akan Allah yang mahabesar dan mahakuasa.

- Meluhurkan (Latin: benedicere). Jika mengacu pada akar katanya, meluhurkan berarti berarti berbicara atau menyerukan sesuatu yang baik tentang Allah (bene: baik; dicere: berbicara, bdk. Tob 8:17). Mungkin searti dengan kata "memberkati". Dan lawan kata dari meluhurkan atau memberkati ini adalah mengutuk (Latin: maledicere). Kata "memuji" dan "meluhurkan" pada dasarnya saling berkaitan. Sebab, ketika memuji Allah, mat secara tidak langsung berbicara baik tentang Allah. Di hadapan kemuliaan Allah, hanyalah kata-kata baik yang seharusnya dihaturkan kepada Allah.

- Menyembah (Latin: adorare). Dalam Perjanjian Lama kata ini kerap dikaitkan dengan upacara peribadatan. Di Bait Allah, di mana kemuliaan TUHAN terlihat nyata, bangsa Israel datang untuk menyembah-Nya. Dalam salah satu perikop Injil Yohanes tentang dialog dengan perempuan Samaria, Yesus menggunakan kata "menyembah" (adorare, versi vulgata) ketika menyinggung soal peribadatan di gunung di Samaria (Gerizim) maupun di gunung di Yerusalem (SIon) (Yoh 4:21-22)

- Memuliakan (Latin: glorificare). Kata ini masih berkaitan dengan kata memuji dan meluhurkan. Memuliakan berarti menjunjung tinggi dan menaruh rasa hormat. Ini adalah tindakan terpuji ketika berhadapan dengan TUHAN, Sang Pencipta.

- Bersyukur (Latin: agere gratia). Ini tindakan terakhir umat beriman di hadapan Allah. Bersyukur berarti mengembalikan segala kebaikan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dalam madah dikatakan, "kami bersyukur karena kemuliaan-Mu yang besar". Dalam konteks ini, kemuliaan Allah yang besar di sini menunjuk pada kehadiran Allah yang menganugerahkan kebaikan, menaruh perhatian dan memelihara manusia. Atas semuanya itu, sudah seharusnya manusia itu bersyukur dan berterima kasih kepada Allah.

(Sumber: Ditulis oleh RP. Albertus Purnomo, OFM; Majalah Liturgi Vol. 29 No. 2, hal 24-25, selengkapnya dapat dibaca di Majalah Liturgi edisi tersebut)

Rabu, 01 Agustus 2018

Acara lain di panti imam setelah Doa Sesudah Komuni


Ilustrasi Foto: Gereja Katolik St. Pius X, Granger - Indiana
PERTANYAAN:

Romo, apakah setelah Doa Sesudah Komuni kita boleh menampilkan acara lain di panti imam? Apakah pada misa ulang tahun pastor paroki, setelah Doa Sesudah Komuni, seorang anak boleh tampil di atas panti imam membacakan puisi ulang tahun? (Sr. Luisa Anin, PI, Yogyakarta)

JAWABAN:

Sr. Luisa yang terkasih. Ekaristi merupakan pusat seluruh hidup kristiani. Tiap-tiap orang beriman terlibat di dalamnya (bdk. Konstitusi Liturgi no. 26). Ada yang berperan sebagai pemimpin, pemazmur, kor, lektor, akolit, misdina, dan sebagainya. Dengan cara ini umat kristiani menunjukkan jenjang-jenjangnya menurut susunan hirarki yang rapi (Misale Romawi, Petunjuk Umum no.91). Gereja telah menentukan tempat peran para petugas liturgi. Misalnya tempat liturgi sabda adalah mimbar sabda. Lektor, pemazmur, pembaca injil, pembawa homili dan pembawa doa umat melaksanakan tugas mereka di mimbar sabda. Maka disayangkan apabila imam tidak berhomili di mimbar sabda meskipun mimbar sabda itu baik dengan mikrofon yang bagus pula, tetapi lebih memilih berjalan kian kemari di panti imam bahkan berjalan menyusuri lorong di antara tempat duduk umat sambil berhomili. Setiap petugas liturgi berperan menurut peran dan tempat yang diperuntukkannya. Baik kaum tertahbis maupun tidak tertahbis berperan dalam liturgi berdasarkan tugasnya yang khas.

Mengenai praktik membawakan acara seperti di panggung hiburan setelah Doa Sesudah Komuni, perlu kita melihatnya secara cermat berdasarkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Apakah acara yang dibawakan itu merupakan bagian dari liturgi itu sendiri? Apakah mereka (pembawa acara) termasuk kalangan petugas liturgi? Apakah selama misa, panti imam dapat dijadikan tempat yang baik untuk menampilkan acara? Apakah dengan selesainya Doa Sesudah Komuni kita boleh menganggap bahwa misa sudah berakhir sehingga boleh saja menjadikan panti imam sebagai panggung hiburan?

Tentu acara seperti itu bukan bagian dari liturgi. Pembawa acara tidak termasuk dalam kalangan petugas liturgi. Bayangkan petugas liturgi saja tidak sembarangan berdiri di panti imam. Ia hanya berada di panti imam pada saat melaksanakan tugasnya. Lalu dia yang bukan petugas liturgi (pembawa acara) seenaknya menempati panti imam untuk menampilkan hal yang bukan bagian dari liturgi. Di beberapa gereja, anak kecil saja diberi tempat yang khusus di dalam gereja agar tidak bebas berjalan kian kemari sampai panti imam, oleh karena kekhususan panti imam. Lalu kita seenaknya membiarkan orang menampilkan acara hiburan di sana. Di manakah ketegasan kita? Kita bersikap tegas terhadap anak kecil, kita juga bersikap tegas terhadap fotografer agar tidak menempati panti imam waktu memotret, lalu mengapa kita tidak bersikap tegas juga terhadap orang-orang yang menjadikan panti imam pada waktu misa sebagai panggung hiburan.

Panti imam adalah tempat yang khusus, "tempat imam serta pelayan-pelayan lain melaksanakan tugas" (PUMR no. 295). DI Gereja Timur, panti imam bahkan disekat setinggi kira-kira 1 meter agar terpisah dari umat dan tidak sembarang orang menempati atau memasukinya.

Kita semua tahu bahwa misa berakhir setelah berkat penutup. Berakhirnyam isa itu pun disampaikan secara resmi oleh imam atau diakon dengan mengatakan: "Misa sudah selesai". Maka anggapan bahwa setelah Doa Sesudah Komuni kita boleh menampilkan acara hiburan atau potong nasi tumpeng/kue ulang tahun dan kemudian saling suap, dan lain sebagainya, adalah anggapan yang tidak tepat karena masih dalam suasana misa. Sebaiknya kita semua menghindari bahaya "profanisasi" misa (bdk Redemptionis Sacramentum no. 78). Para petugas pastoral berusahalah dengan tekun untuk memperbaiki pendapat atau praktek-praktek yang dangkal itu, yang kadang terjadi.

Bagi kita, gereja itu monofungsi, tempat untuk merayakan sakramen-sakramen dan berdoa, "tempat yang diperuntukkan bagi ibadat ilahi" (Kitab Hukum Kanonik kan.1214), "tempat yang dikhususkan bagi pertemuan dengan Tuhan" (Iman Katolik hal.165). Kecuali dalam keadaan darurat, gereja dapat dipakai sebagai tempat pengungsian dan sebagainya. Gereja bukan multifungsi dimana berbagai kegiatan boleh dilaksanakan di sana. Karena itu kita mengadakan/mendirikan aula dengan maksud sebagai tempat pelaksanaan berbagai kegiatan yang bukan liturgi dan untuk menghindari penyalahgunaan gereja.

Sebaiknya sejak dini kita mendidik anak-anak kita untuk mampu membedakan dan memperlakukan secara tepat panti imam dan panggung hiburan. Pendidikan yang baik bagi mereka ialah melalui teladan dari kita para petugas liturgi, imam dan umat beriman. Kita perlu menghindari acara yang bersifat hiburan dalam perayaan liturgi demi menjaga keagungan liturgi suci dan agar perayaan liturgi tidak kehilangan artinya yang otentik. Acara hiburan seperti puisi, tarian, lagu pop, potong kue ulang tahun dan sebagainya, kita tempatkan saja di luar misa dan di aula atau hotel yang sudah dipesan untuk acara resepsi. Semoga makin hari, perlakuan kita terhadap Ekaristi makin sesuai dengan tujuan pengadaannya oleh Yesus Kristus Tuhan kita. Sr. Luisa, demikian penjelasan dari saya. Harap bermanfaat. Terima kasih.

RD Yohanes Rusae
Sekretaris Komisi Liturgi KWI

(Majalah Liturgi Vol. 29 - No 2)

Anda yang berminat berlangganan majalah Liturgi dapat menghubungi 0213153912, 3154714, SMS: 0815 1080 8853. E-mail malitkwi(at)yahoo.com. Pengganti ongkos cetak Rp 20.000,-/eksemplar

Kamis, 26 Juli 2018

PERBEDAAN MUSIK LITURGI DENGAN MUSIK ROHANI

 
Musik Liturgi adalah musik yang digunakan untuk ibadat / liturgi, mempunyai kedudukan yang integral dalam ibadat, serta mengabdi pada kepentingan ibadat. Dalam Sacrosanctom Concilium (SC) art. 112 dikatakan: “Musik Liturgi semakin suci, bila semakin erat berhubungan dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak.”

Musik rohani adalah musik yang sengaja diciptakan untuk keperluan diluar ibadat liturgi, misalnya: pertemuan mudika, arisan-arisan, rekreasi, pelatihan, pentas musik rohani, rekaman, sinetron, nongkrong di café bahkan sampai dengan usaha membentuk suasana rohani di rumah. Contoh lagu: Dia mengerti, Hati sbagai hamba, Tuhan pasti sanggup, Mukjizat itu nyata.

Musik liturgi memiliki fungsi dan kedudukan yang jelas dalam ibadat (Contoh: untuk nyanyian pembuka/persiapan persembahan/komuni/pengutusan/mazmur tanggapan). Musik liturgi dalam arti tertentu mengacu pada semua macam musik yang inspirasinya atau maksud dan tujuan serta cara membawakannya mempunyai hubungan dengan iman Gereja. Kita menggunakan istilah “musik-liturgis” dan bukan “musik dalam liturgi” karena dengan “musik-liturgis” mau digarisbawahi pandangan Gereja tentang musik sebagai bagian utuh dari perayaan liturgi dan bukan sebagai suatu unsur luar yang dicopot dan dimasukkan ke dalam perayaan liturgis seakan-akan suatu barang asing atau hal lain dari liturgi lalu diletakkan di tengah perayaan liturgi.

Sebagai bagian utuh dari liturgi, musik-liturgi itu merupakan doa dan bukan sekedar suatu ekspresi seni yang jadi bahan tontonan. Memang musik-liturgi itu mesti indah dan memenuhi persyaratan-persyaratan seni musik/nyanyian pada umumnya, namun lebih dari itu musik-liturgi mengungkapkan doa manusia beriman. Bahkan musik atau nyanyian-liturgis sebagai doa mempunyai nilai tinggi. Sebab musik-liturgi menggerakkan seluruh diri manusia yang menyanyi atau yang menggunakan alat-alat musik (budi, perasaan-hati, mata, telinga, suara, tangan atau kaki dll). Sekaligus demi harmoni dituntut kurban untuk meninggalkan diri sendiri dan menyesuaikan diri dengan orang lain, dengan tempat, dengan situasi, dengan maksud-tujuan musik/nyanyian liturgis yaitu demi Tuhan dan sesama. Ini memang cocok dengan hakekat dari liturgi sebagai perayaan bersama yang melibatkan banyak orang demi kepentingan umum (kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia, bukan hanya demi diri sendiri). Oleh karena itu Gereja mewarisi pandangan bahwa orang yang menyanyi dengan baik sebenarnya berdoa dua kali (si bene cantat bis orat). Sekali lagi, nilai yang tinggi itu tercapai kalau ada kurban dengan meninggalkan diri sendiri dan bersatu dengan yang lain dalam menyanyi atau bermusik demi kepentingan bersama.

Sedangkan musik rohani / pop rohani tidak memiliki tujuan-tujuan seperti di atas. tidak mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, dengan syair yang sangat individual lagu ini tidak memupuk kesatuan hati umat beriman yang sedang beribadat. Kesimpulan ini berlaku bagi semua lagu pop rohani yang beredar di kalangan umat, karena musik rohani memang tidak liturgis, tidak memiliki fungsi dan kedudukan yang jelas dalam ibadat. Dengan kata lain semua lagu pop rohani / musik rohani jelas-jelas bertentangan dengan isi Konstitusi Liturgi (SC) art. 112. Prinsip yang dipegang oleh Gereja Katolik adalah “Lex orandi, lex credendi“: apa yang didoakan adalah apa yang dipercaya/ diimani (lih. KGK 1124). Jadi apa yang dinyanyikan (yaitu doa yang dimadahkan), itu harus menjadi ungkapan kepercayaan iman kita. Dengan prinsip ini maka lagu-lagu pop dengan syair yang tidak berkaitan dengan iman Katolik atau syair yang tidak sesuai dengan iman Katolik, tidak dapat dinyanyikan di dalam liturgi Gereja Katolik.

Diolah dari berbagai sumber
- katolisitas.org
- http://surabayaliturgiamusica.blogspot.com/

Selasa, 10 Juli 2018

Musik dan Instrumen dalam Liturgi

 
Salah satu kontroversi yang sedang berlangsung di paroki-paroki adalah jenis musik dan instrumen apa yang pantas dalam Misa. Untungnya, eksperimen masa lalu, ketika ada Misa Rock, Misa Jazz, dan bahkan Misa Polka, tampaknya sebagian besar sudah berakhir. Secara alamiah, di mana tidak ada penghargaan terhadap sifat liturgi atau norma-norma Gereja, semuanya tetap masih mungkin. "Liturgi" seperti itu (jika mereka bisa disebut itu) kadang-kadang dibenarkan sebagai "Vatikan II", tentang bagaimana membuka jendela, mencoba hal-hal baru, menggunakan bentuk-bentuk duniawi. Tidak ada yang bisa lebih jauh dari kebenaran. Konsili secara terus-menerus menyerukan pelestarian tradisi Ritus Latin dan harmonisasi adaptasi universal atau lokal terhadap tradisi itu dan sifat liturgi sakral.
 
Konsili Vatikan II. Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium memperjelas sifat reformasi liturgi otentik. Mengutip, dan menyoroti, apa yang berlaku untuk subjek kami yang disebutkannya, 
 

Kaidah-kaidah umum
 
(Pengaturan Liturgi) 
(1) Wewenang untuk mengatur Liturgi semata-mata ada pada pimpinan Gereja, yakni Takhta Apostolik, dan menurut kaidah hukum pada uskup. 
(2) Berdasarkan kuasa yang diberikan hukum, wewenang untuk mengatur perkara-perkara Liturgi dalam batas-batas tertentu juga ada pada pelbagai macam Konferensi Uskup sedaerah yang didirikan secara sah. 
(3) Maka dari itu tidak seorang lainnya pun, meskipun imam, boleh menambahkan, meniadakan atau mengubah sesuatu dalam Liturgi atas prakarsa sendiri.
 
23.(Tradisi dan perkembangan) Supaya tradisi yang sehat dipertahankan, namun dibuka jalan juga bagi perkembangan yang wajar, hendaknya selalu diadakan lebih dulu penyeklidikan teologis, historis, dan pastoral, yang cermat tentang setiap bagian Liturgi yang perlu ditinjau kembali. Kecuali itu hendaklah dipertimbangkan baik patokan-patokan umum tentang susunan dan makna Liturgi, maupun pengalaman yang diperoleh dari pembaharuan Liturgi belakangan ini serta dari izin-izin yang diberikan di sana-sini. Akhirnya janganlah kiranya diadakan hal-hal baru, kecuali bila sungguh-sungguh dan pasti dituntut oleh kepentingan Gereja; dan dalam hal ini hendaknya diusahakan dengan cermat, agar bentuk-bentuk baru itu bertumbuh secara kurang lebih organis dari bentuk-bentuk yang sudah ada. Sedapat mungkin hendaknya dicegah juga, jangan sampai ada perbedaan-perbedaan yang menyolok dalam upacar-upacara di daerah-daerah yang berdekatan.
 
26.B.Kaidah-kaidah berdasarkan hakekat Liturgi sebagai tindakan Hirarki dan jemaat
 
Upacara-upacara Liturgi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan Gereja sebagai sakramen kesatuan, yakni Umat kudus yang berhimpun dan diatur dibawah para Uskup. Maka upacara-upacara itu menyangkut seluruh Tubuh Gereja dan menampakkan serta mempengaruhinya; sedangkan masing-masing anggota disentuhnya secara berlain-lainan, menurut keanekaan tingkatan, tugas serta keikut-sertaan aktual mereka.
 
29. Juga para pelayan Misa (putera altar), para lektor, para komentator dan para anggota paduan suara benar-benar menjalankan pelayanan liturgis. Maka hendaknya mereka menunaikan tugas dengan saleh, tulus dan saksama, sebagaimana layak untuk pelayanan seluhur itu, dan sudah semestinya dituntut dari mereka oleh Umat Allah. Maka perlulah mereka secara mendalam diresapi semangat Liturgi, masing-masing sekadar kemampuannya, dan dibina untuk membawakan peran mereka dengan tepat dan rapih.
 
37.D.Kaidah-kaidah untuk menyesuaikan Liturgi dengan tabiat perangai dan tradisi bangsa-bangsa
 
Dalam hal-hal yang tidak menyangkut iman atau kesejahteraan segenap jemaat, Gereja dalam Liturgi pun tidak ingin mengharuskan suatu keseragaman yang kaku. Sebaliknya Gereja memelihara dan memajukan kekayaan yang menghiasi jiwa pelbagai suku dan bangsa. Apa saja dalam adat kebiasaan para bangsa, yang tidak secara mutlak terikat pada takhayul atau ajaran sesat, oleh Gereja dipertimbangkan dengan murah hati, dan bila mungkin dipeliharanya dengan hakekat semangat Liturgi yang sejati dan asli.
 
39.Dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh terbitan otentik buku-buku Liturgi, pimpinan Gereja setempat yang berwenang, seperti disebut dalam art. 22, (2), berhak untuk memerinci penyesuaian-penyesuaian, terutama mengenai pelayanan Sakramen-sakramen, sakramentali, perarakan, bahasa Liturgi, musik Gereja dan kesenian, asal saja sesuai dengan kaidah-kaidah dasar yang terdapat dalam konstitusi ini. 
 
112. (Martabat musik Liturgi) Tradisi musik Gereja semesta merupakan kekayaan yang tak terperikan nilainya, lebih gemilang dari ungkapan-ungkapan seni lainnya, terutama karena nyanyian suci yang terikat pada kata-kata merupakan bagian Liturgi meriah yang penting atau integral. Ternyata lagu-lagu ibadat sangat dipuji baik oleh Kitab suci, maupun oleh para Bapa Gereja; begitu pula oleh para Paus, yang dipelopori oleh Santo Pius X, - akhir-akhir ini semakin cermat menguraikan peran serta Musik Liturgi mendukung ibadat Tuhan. Maka Musik Liturgi semakin suci, bila semakin eret hubungannya dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebig semarak. Gereja menyetujui segala bentuk kesenian yang sejati, yang memiliki sifat-sifat menurut persyaratan Liturgi, dan mengizinkan penggunaannya dalam ibadat kepada Allah. 
 
114.Khazanah Musik Liturgi hendaknya dilestarikan dan dikembangkan secermat mungkin. Paduan suara hendaknya dibina dengan sungguh-sungguh, terutama di gereja-gereja katedral. Para Uskup dan para gembala jiwa lainnya hendaknya berusaha dengan tekun, supaya pada setiap upacara Liturgi yang dinyanyikan segenap jemaat beriman dapat ikut serta secara aktif dengan membawakan bagian yang diperuntukkan bagi mereka, menurut kaidah art. 28 dan 30.
 
116.(Nyanyian Gregorian dan Polifoni) Gereja memandang nyanyian Gregorian sebagai nyanyian khas bagi Liturgi Romawi. Maka dari itu, bila tiada pertimbangan-pertimbangan yang lebih penting , nyanyian Gregorian hendaknya diutamakan dalam upacara-upacara Liturgi. Jenis-jenis lain Musik Liturgi, terutama polifoni, sama sekali tidak dilarang dalam perayaan ibadat suci, asal saja selaras dengan jiwa upacara Liturgi, menurut ketentuan pada art. 30. 
 
119.(Musik Liturgi di daerah-daerah Misi) Di wilayah-wilayah tertentu, terutama di daerah Misi, terdapat bangsa-bangsa yang mempunyai tradisi musik sendiri, yang memanikan peran penting dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Hendaknya musik itu mendapat penghargaan selayaknya dan tempat yang sewajarnya , baik dalam membentuk sikap religius mereka, maupun dalam menyelesaikan ibadat dengan sifat-perangai mereka, menurut maksud art. 39 dan 40. Maka dari itu dalam pendidikan musik bagi para misionaris hendaknya sungguh diusahakan, supaya mereka sedapat mungkin mampu mengembangkan musik tradisional bangsa-bangsa itu disekolah-sekolah maupun dalam ibadat.
 
120.(Orgel dan alat-alat musik lainnya) Dalam Gereja Latin orgel pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional, yang suaranya mampu memeriahkan upacara-upacara Gereja secara mengagumkan, dan mengangkat hati Umat kepada Allah dan ke sorga. Akan tetapi, menurut kebijaksanaan dan dengan persetujuan pimpinan gerejawi setempat yang berwenang, sesuai dengan kaidah art. 22 (2), 37 dan 40, alat-alat musik lain dapat juga dipakai dalam ibadat suci, sejauh memang cocok atau dapat disesuaikan dengan penggunaan dalam Liturgi, sesuai pula dengan keanggunan gedung gereja, dan sungguh membantu memantapkan penghayatan Umat beriman.
 
121.(Panggilan para pengarang musik) Dipenuhi semangat kristiani, hendaknya para seniman musik menyadari, bahwa mereka dipanggil untuk mengembangkan Musik Liturgi dan memperkaya khazanahnya. Hendaklah mereka mengarang lagu-lagu, yang mempunyai sifat-sifat musik Liturgi yang sesungguhnya, dan tidak hanya dapat dinyanyikan oleh paduan-paduan suara yang besar, melainkan cocok juga bagi paduan-paduan suara yang kecil, dan mengembangkan keikut-sertaan aktif segenap jemaat beriman. Syair-syair bagi nyanyian Liturgi hendaknya selaras dengan ajaran katolik, bahkan terutama hendaklah ditimba dari Kitab suci dan sumber-sumber Liturgi. Musik Sakral. Setelah Konsili itu jatuh ke Kongregasi Ritus-ritus Sakral (sekarang disebut Ibadat Ilahi dan Tata-tertib Sakramen) untuk menerapkan norma-norma Sacrosanctum Concilium dalam menerapkan dokumen-dokumen yang menyentuh semua bidang reformasi liturgis. Di bidang musik liturgi, dokumen pelaksana disebut Musicam sacram (Musik Sakral). Ini menetapkan apa yang bisa disebut musik sakral. 
 
4. Diharapkan bahwa para gembala jiwa, musisi, dan umat beriman dengan senang hati menerima norma-norma ini dan mempraktekkannya, menyatukan upaya mereka untuk mencapai tujuan sebenarnya dari musik sakral, "yang merupakan kemuliaan Tuhan dan pengudusan yang setia. " [SC 112]
 
(A) Dengan musik sakral dipahami apa,
sedang diciptakan untuk perayaan ibadat ilahi,
diberkati dengan ketulusan suci tertentu dari bentuk. 
 
(B) Berikut ini di bawah judul musik sakral di sini:
Nyanyian Gregorian,
polifoni suci dalam berbagai bentuknya baik kuno maupun modern,
musik sakral untuk organ dan instrumen lain yang disetujui, dan
musik populer yang sakral, baik itu liturgi atau agama.
 
Jadi, musik liturgi populer, atau religius, dapat menjadi sakral jika:
1) diciptakan untuk ibadah, dan
2) diberkati dengan ketulusan bentuk tertentu.
 
Ini menunjukkan bahwa lagu-lagu sekuler yang diadaptasi tidak dapat digunakan dalam Misa, tetapi kreasi modern yang memiliki karakter yang dijelaskan dapat digunakan.
  
Adapun instrumen, dokumen panduan yang sama menyatakan,
 
62. Alat musik dapat menjadi sangat bermanfaat dalam perayaan-perayaan kudus, entah untuk mengiringi lagu-Iagu, entah dimainkan sendiri sebagai instrumental tunggal. "Organ pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional Gereja Latin; suaranya mampu menyemarakkan upacara-upacara ibadat secara mengagumkan, dan dengan mantap mengangkat hati umat ke hadapan Allah dan ke alam surgawi. Akan tetapi dengan persetujuan pimpinan gerejawi setempat yang berwenang, alat-alat musik lain dapat juga dipakai dalam ibadat, asal sesuai dan dapat disesuaikan dengan fungsi kudusnya, cocok dengan keanggunan gedung gereja, dan benar-benar membantu memantapkan ibadat kaum beriman. 
 
63. Dalam mengizinkan penggunaan alat musik tersebut, kebudayaan dan tradisi masing-masing bangsa hendaknya diperhitungkan. Tetapi alat-alat musik yang menurut pendapat umum -dan defakto - hanya cocok untuk musik sekular, haruslah sama sekali dilarang penggunaannya untuk perayaan liturgis dan devosi umat. Setiap alat musik yang diizinkan pemakaiannya dalam ibadat hendaknya digunakan sedemikian rupa sehingga memenuhi tuntutan perayaan liturgis, dan bermanfaat baik untuk menyemarakkan ibadat maupun untuk memantapkan jemaat. 
 
PUMR. Pedoman Umum Misale Romawi (2002) menyatakan sebagai berikut: 
 
20. Seperti halnya dengan semua liturgi, Perayaan Ekaristi pun dilaksanakan dengan menggunakan tanda-tanda inderawi. Lewat tanda-tanda itu iman umat diungkapkan, dipupuk, dan diperkuat. Dari sebab itu, sungguh penting untuk memanfaatkan semua unsur dan bentuk perayaan yang disediakan oleh Gereja. Hal itu memungkinkan umat berpartisipasi secara lebih aktif dan memetik manfaat lebih besar bagi kepentingan rohaninya. Semua itu dilaksanakan dengan memperhatikan kekhususan umat dan tempat.  
 
24.Untuk sebagian besar, penyerasian-penyerasian itu terbatas pada pemilihan ritus atau teks, yakni pemilihan nyanyian, bacaan, doa, ajakan, dan tata gerak yang lebih sesuai dengan kebutuhan, kesiapan, dan kekhasan jemaat. Pemilihan-pemilihan seperti itu dipercayakan kepada imam yang memimpin perayaan Ekaristi. Namun, imam harus ingat bahwa dia adalah pelayan liturgi kudus, dan bahwa ia sendiri tidak diizinkan menambah, mengurangi, atau mengubah sesuatu dalam perayaan Misa atas kemauannya sendiri. 
 
39.Rasul Paulus menganjurkan kepada himpunan umat yang menantikan kedatangan Tuhan, supaya mereka melagukan mazmur, madah, dan lagu-lagu rohani ( lih. Kol 3:16 ). Orang bernyanyi karena hatinya gembira (lih .Kis 2:46). Dengan tepat Agustinus berkata, "Orang yang penuh cinta suka bernyanyi". Ada juga peribahasa kuno, "yang bernyanyi dengan baik berdoa dua kali." 
 
41.Meskipun semua nyanyian sama, nyanyian gregorian yang merupakan ciri khas liturgi Romawi, hendaknya diberi tempat utama. Semua jenis musik ibadat lainnya, khususnya nyanyian polifoni, sama sekali tidak dilarang, asal saja selaras dengan jiwa perayaan liturgi dan dapat menunjang partisipasi seluruh umat beriman. Dewasa ini, makin sering terjadi himpunan jemaat yang terdiri atas bermacam-macam bangsa. Maka sangat diharapkan agar umat mahir melagukan bersama-sama sekurang-kurangnya beberapa bagian ordinarium Misa dalam Bahasa Latin, terutama Credo dan Pater noster dengan lagu yang sederhana.
 
42.Tata gerak dan sikap tubuh imam, diakon, para pelayan, dan jemaat haruslah dilaksanakan sedemikian rupa sehingga: (1) seluruh perayaan memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun; (2) makna aneka bagian perayaan dipahami secara tepat dan penuh; dan (3) partisipasi seluruh jemaat ditingkatkan. Oleh karena itu, ketentuan hukum liturgi dan tradisi Ritus Romawiserta kesejahteraan rohani umat Allah harus lebih diutamakan daripada selera pribadi dan pilihan yang serampangan.
 
Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat yang berhimpun untuk merayakan Liturgi Kudus. Sebab sikap tubuh yang sama mencerminkan dan membangun sikap batin yang sama pula.
 
Dengan demikian, harus jelas dari norma-norma umum, serta dari norma-norma yang mengatur bagian-bagian tertentu dari Misa, bahwa sementara jelas ada unsur penilaian pada bagian dari uskup dan imam seperti apa musik dan instrumen untuk memungkinkan dalam Misa, bahwa izin ini tidak meluas ke musik dan instrumen yang sifatnya sekuler murni yang tidak dapat beradaptasi dengan liturgi dan karakter sucinya.

Ditulis oleh: Colin B. Donovan, STL
Ilustrasi foto: http://www.churchofstjohnstjoseph.org