Rabu, 15 Agustus 2018

MADAH KEMULIAAN: Lima tindakan umat di hadapan Kemuliaan yang besar

Dalam madah Kemuliaan ditunjukkan lima tindakan umat di hadapan kemuliaan Allah yang besar: memuji, meluhurkan, menyembah, memuliakan, dan bersyukur. Kelima tindakan ini termuat dalam salah satu kitab Deuterokanonika, yaitu Kitab Tambahan Daniel (3:51-90) yang memuat madah pujian Azarya dan kedua sahabatnya kepada Allah ketika berada di dalam tanur api. Apa maksud dari kelima tindakan tersebut?

- Memuji (Latin: laudare; Ibrani: Hallel, bdk. 1 Taw 29:12-13). Memuji Allah berarti melambungkan pujian atas dasar rasa kagum akan Allah yang mahabesar dan mahakuasa.

- Meluhurkan (Latin: benedicere). Jika mengacu pada akar katanya, meluhurkan berarti berarti berbicara atau menyerukan sesuatu yang baik tentang Allah (bene: baik; dicere: berbicara, bdk. Tob 8:17). Mungkin searti dengan kata "memberkati". Dan lawan kata dari meluhurkan atau memberkati ini adalah mengutuk (Latin: maledicere). Kata "memuji" dan "meluhurkan" pada dasarnya saling berkaitan. Sebab, ketika memuji Allah, mat secara tidak langsung berbicara baik tentang Allah. Di hadapan kemuliaan Allah, hanyalah kata-kata baik yang seharusnya dihaturkan kepada Allah.

- Menyembah (Latin: adorare). Dalam Perjanjian Lama kata ini kerap dikaitkan dengan upacara peribadatan. Di Bait Allah, di mana kemuliaan TUHAN terlihat nyata, bangsa Israel datang untuk menyembah-Nya. Dalam salah satu perikop Injil Yohanes tentang dialog dengan perempuan Samaria, Yesus menggunakan kata "menyembah" (adorare, versi vulgata) ketika menyinggung soal peribadatan di gunung di Samaria (Gerizim) maupun di gunung di Yerusalem (SIon) (Yoh 4:21-22)

- Memuliakan (Latin: glorificare). Kata ini masih berkaitan dengan kata memuji dan meluhurkan. Memuliakan berarti menjunjung tinggi dan menaruh rasa hormat. Ini adalah tindakan terpuji ketika berhadapan dengan TUHAN, Sang Pencipta.

- Bersyukur (Latin: agere gratia). Ini tindakan terakhir umat beriman di hadapan Allah. Bersyukur berarti mengembalikan segala kebaikan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dalam madah dikatakan, "kami bersyukur karena kemuliaan-Mu yang besar". Dalam konteks ini, kemuliaan Allah yang besar di sini menunjuk pada kehadiran Allah yang menganugerahkan kebaikan, menaruh perhatian dan memelihara manusia. Atas semuanya itu, sudah seharusnya manusia itu bersyukur dan berterima kasih kepada Allah.

(Sumber: Ditulis oleh RP. Albertus Purnomo, OFM; Majalah Liturgi Vol. 29 No. 2, hal 24-25, selengkapnya dapat dibaca di Majalah Liturgi edisi tersebut)

Rabu, 01 Agustus 2018

Acara lain di panti imam setelah Doa Sesudah Komuni


Ilustrasi Foto: Gereja Katolik St. Pius X, Granger - Indiana
PERTANYAAN:

Romo, apakah setelah Doa Sesudah Komuni kita boleh menampilkan acara lain di panti imam? Apakah pada misa ulang tahun pastor paroki, setelah Doa Sesudah Komuni, seorang anak boleh tampil di atas panti imam membacakan puisi ulang tahun? (Sr. Luisa Anin, PI, Yogyakarta)

JAWABAN:

Sr. Luisa yang terkasih. Ekaristi merupakan pusat seluruh hidup kristiani. Tiap-tiap orang beriman terlibat di dalamnya (bdk. Konstitusi Liturgi no. 26). Ada yang berperan sebagai pemimpin, pemazmur, kor, lektor, akolit, misdina, dan sebagainya. Dengan cara ini umat kristiani menunjukkan jenjang-jenjangnya menurut susunan hirarki yang rapi (Misale Romawi, Petunjuk Umum no.91). Gereja telah menentukan tempat peran para petugas liturgi. Misalnya tempat liturgi sabda adalah mimbar sabda. Lektor, pemazmur, pembaca injil, pembawa homili dan pembawa doa umat melaksanakan tugas mereka di mimbar sabda. Maka disayangkan apabila imam tidak berhomili di mimbar sabda meskipun mimbar sabda itu baik dengan mikrofon yang bagus pula, tetapi lebih memilih berjalan kian kemari di panti imam bahkan berjalan menyusuri lorong di antara tempat duduk umat sambil berhomili. Setiap petugas liturgi berperan menurut peran dan tempat yang diperuntukkannya. Baik kaum tertahbis maupun tidak tertahbis berperan dalam liturgi berdasarkan tugasnya yang khas.

Mengenai praktik membawakan acara seperti di panggung hiburan setelah Doa Sesudah Komuni, perlu kita melihatnya secara cermat berdasarkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Apakah acara yang dibawakan itu merupakan bagian dari liturgi itu sendiri? Apakah mereka (pembawa acara) termasuk kalangan petugas liturgi? Apakah selama misa, panti imam dapat dijadikan tempat yang baik untuk menampilkan acara? Apakah dengan selesainya Doa Sesudah Komuni kita boleh menganggap bahwa misa sudah berakhir sehingga boleh saja menjadikan panti imam sebagai panggung hiburan?

Tentu acara seperti itu bukan bagian dari liturgi. Pembawa acara tidak termasuk dalam kalangan petugas liturgi. Bayangkan petugas liturgi saja tidak sembarangan berdiri di panti imam. Ia hanya berada di panti imam pada saat melaksanakan tugasnya. Lalu dia yang bukan petugas liturgi (pembawa acara) seenaknya menempati panti imam untuk menampilkan hal yang bukan bagian dari liturgi. Di beberapa gereja, anak kecil saja diberi tempat yang khusus di dalam gereja agar tidak bebas berjalan kian kemari sampai panti imam, oleh karena kekhususan panti imam. Lalu kita seenaknya membiarkan orang menampilkan acara hiburan di sana. Di manakah ketegasan kita? Kita bersikap tegas terhadap anak kecil, kita juga bersikap tegas terhadap fotografer agar tidak menempati panti imam waktu memotret, lalu mengapa kita tidak bersikap tegas juga terhadap orang-orang yang menjadikan panti imam pada waktu misa sebagai panggung hiburan.

Panti imam adalah tempat yang khusus, "tempat imam serta pelayan-pelayan lain melaksanakan tugas" (PUMR no. 295). DI Gereja Timur, panti imam bahkan disekat setinggi kira-kira 1 meter agar terpisah dari umat dan tidak sembarang orang menempati atau memasukinya.

Kita semua tahu bahwa misa berakhir setelah berkat penutup. Berakhirnyam isa itu pun disampaikan secara resmi oleh imam atau diakon dengan mengatakan: "Misa sudah selesai". Maka anggapan bahwa setelah Doa Sesudah Komuni kita boleh menampilkan acara hiburan atau potong nasi tumpeng/kue ulang tahun dan kemudian saling suap, dan lain sebagainya, adalah anggapan yang tidak tepat karena masih dalam suasana misa. Sebaiknya kita semua menghindari bahaya "profanisasi" misa (bdk Redemptionis Sacramentum no. 78). Para petugas pastoral berusahalah dengan tekun untuk memperbaiki pendapat atau praktek-praktek yang dangkal itu, yang kadang terjadi.

Bagi kita, gereja itu monofungsi, tempat untuk merayakan sakramen-sakramen dan berdoa, "tempat yang diperuntukkan bagi ibadat ilahi" (Kitab Hukum Kanonik kan.1214), "tempat yang dikhususkan bagi pertemuan dengan Tuhan" (Iman Katolik hal.165). Kecuali dalam keadaan darurat, gereja dapat dipakai sebagai tempat pengungsian dan sebagainya. Gereja bukan multifungsi dimana berbagai kegiatan boleh dilaksanakan di sana. Karena itu kita mengadakan/mendirikan aula dengan maksud sebagai tempat pelaksanaan berbagai kegiatan yang bukan liturgi dan untuk menghindari penyalahgunaan gereja.

Sebaiknya sejak dini kita mendidik anak-anak kita untuk mampu membedakan dan memperlakukan secara tepat panti imam dan panggung hiburan. Pendidikan yang baik bagi mereka ialah melalui teladan dari kita para petugas liturgi, imam dan umat beriman. Kita perlu menghindari acara yang bersifat hiburan dalam perayaan liturgi demi menjaga keagungan liturgi suci dan agar perayaan liturgi tidak kehilangan artinya yang otentik. Acara hiburan seperti puisi, tarian, lagu pop, potong kue ulang tahun dan sebagainya, kita tempatkan saja di luar misa dan di aula atau hotel yang sudah dipesan untuk acara resepsi. Semoga makin hari, perlakuan kita terhadap Ekaristi makin sesuai dengan tujuan pengadaannya oleh Yesus Kristus Tuhan kita. Sr. Luisa, demikian penjelasan dari saya. Harap bermanfaat. Terima kasih.

RD Yohanes Rusae
Sekretaris Komisi Liturgi KWI

(Majalah Liturgi Vol. 29 - No 2)

Anda yang berminat berlangganan majalah Liturgi dapat menghubungi 0213153912, 3154714, SMS: 0815 1080 8853. E-mail malitkwi(at)yahoo.com. Pengganti ongkos cetak Rp 20.000,-/eksemplar

Kamis, 26 Juli 2018

PERBEDAAN MUSIK LITURGI DENGAN MUSIK ROHANI

 
Musik Liturgi adalah musik yang digunakan untuk ibadat / liturgi, mempunyai kedudukan yang integral dalam ibadat, serta mengabdi pada kepentingan ibadat. Dalam Sacrosanctom Concilium (SC) art. 112 dikatakan: “Musik Liturgi semakin suci, bila semakin erat berhubungan dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak.”

Musik rohani adalah musik yang sengaja diciptakan untuk keperluan diluar ibadat liturgi, misalnya: pertemuan mudika, arisan-arisan, rekreasi, pelatihan, pentas musik rohani, rekaman, sinetron, nongkrong di café bahkan sampai dengan usaha membentuk suasana rohani di rumah. Contoh lagu: Dia mengerti, Hati sbagai hamba, Tuhan pasti sanggup, Mukjizat itu nyata.

Musik liturgi memiliki fungsi dan kedudukan yang jelas dalam ibadat (Contoh: untuk nyanyian pembuka/persiapan persembahan/komuni/pengutusan/mazmur tanggapan). Musik liturgi dalam arti tertentu mengacu pada semua macam musik yang inspirasinya atau maksud dan tujuan serta cara membawakannya mempunyai hubungan dengan iman Gereja. Kita menggunakan istilah “musik-liturgis” dan bukan “musik dalam liturgi” karena dengan “musik-liturgis” mau digarisbawahi pandangan Gereja tentang musik sebagai bagian utuh dari perayaan liturgi dan bukan sebagai suatu unsur luar yang dicopot dan dimasukkan ke dalam perayaan liturgis seakan-akan suatu barang asing atau hal lain dari liturgi lalu diletakkan di tengah perayaan liturgi.

Sebagai bagian utuh dari liturgi, musik-liturgi itu merupakan doa dan bukan sekedar suatu ekspresi seni yang jadi bahan tontonan. Memang musik-liturgi itu mesti indah dan memenuhi persyaratan-persyaratan seni musik/nyanyian pada umumnya, namun lebih dari itu musik-liturgi mengungkapkan doa manusia beriman. Bahkan musik atau nyanyian-liturgis sebagai doa mempunyai nilai tinggi. Sebab musik-liturgi menggerakkan seluruh diri manusia yang menyanyi atau yang menggunakan alat-alat musik (budi, perasaan-hati, mata, telinga, suara, tangan atau kaki dll). Sekaligus demi harmoni dituntut kurban untuk meninggalkan diri sendiri dan menyesuaikan diri dengan orang lain, dengan tempat, dengan situasi, dengan maksud-tujuan musik/nyanyian liturgis yaitu demi Tuhan dan sesama. Ini memang cocok dengan hakekat dari liturgi sebagai perayaan bersama yang melibatkan banyak orang demi kepentingan umum (kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia, bukan hanya demi diri sendiri). Oleh karena itu Gereja mewarisi pandangan bahwa orang yang menyanyi dengan baik sebenarnya berdoa dua kali (si bene cantat bis orat). Sekali lagi, nilai yang tinggi itu tercapai kalau ada kurban dengan meninggalkan diri sendiri dan bersatu dengan yang lain dalam menyanyi atau bermusik demi kepentingan bersama.

Sedangkan musik rohani / pop rohani tidak memiliki tujuan-tujuan seperti di atas. tidak mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, dengan syair yang sangat individual lagu ini tidak memupuk kesatuan hati umat beriman yang sedang beribadat. Kesimpulan ini berlaku bagi semua lagu pop rohani yang beredar di kalangan umat, karena musik rohani memang tidak liturgis, tidak memiliki fungsi dan kedudukan yang jelas dalam ibadat. Dengan kata lain semua lagu pop rohani / musik rohani jelas-jelas bertentangan dengan isi Konstitusi Liturgi (SC) art. 112. Prinsip yang dipegang oleh Gereja Katolik adalah “Lex orandi, lex credendi“: apa yang didoakan adalah apa yang dipercaya/ diimani (lih. KGK 1124). Jadi apa yang dinyanyikan (yaitu doa yang dimadahkan), itu harus menjadi ungkapan kepercayaan iman kita. Dengan prinsip ini maka lagu-lagu pop dengan syair yang tidak berkaitan dengan iman Katolik atau syair yang tidak sesuai dengan iman Katolik, tidak dapat dinyanyikan di dalam liturgi Gereja Katolik.

Diolah dari berbagai sumber
- katolisitas.org
- http://surabayaliturgiamusica.blogspot.com/

Selasa, 10 Juli 2018

Musik dan Instrumen dalam Liturgi

 
Salah satu kontroversi yang sedang berlangsung di paroki-paroki adalah jenis musik dan instrumen apa yang pantas dalam Misa. Untungnya, eksperimen masa lalu, ketika ada Misa Rock, Misa Jazz, dan bahkan Misa Polka, tampaknya sebagian besar sudah berakhir. Secara alamiah, di mana tidak ada penghargaan terhadap sifat liturgi atau norma-norma Gereja, semuanya tetap masih mungkin. "Liturgi" seperti itu (jika mereka bisa disebut itu) kadang-kadang dibenarkan sebagai "Vatikan II", tentang bagaimana membuka jendela, mencoba hal-hal baru, menggunakan bentuk-bentuk duniawi. Tidak ada yang bisa lebih jauh dari kebenaran. Konsili secara terus-menerus menyerukan pelestarian tradisi Ritus Latin dan harmonisasi adaptasi universal atau lokal terhadap tradisi itu dan sifat liturgi sakral.
 
Konsili Vatikan II. Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium memperjelas sifat reformasi liturgi otentik. Mengutip, dan menyoroti, apa yang berlaku untuk subjek kami yang disebutkannya, 
 

Kaidah-kaidah umum
 
(Pengaturan Liturgi) 
(1) Wewenang untuk mengatur Liturgi semata-mata ada pada pimpinan Gereja, yakni Takhta Apostolik, dan menurut kaidah hukum pada uskup. 
(2) Berdasarkan kuasa yang diberikan hukum, wewenang untuk mengatur perkara-perkara Liturgi dalam batas-batas tertentu juga ada pada pelbagai macam Konferensi Uskup sedaerah yang didirikan secara sah. 
(3) Maka dari itu tidak seorang lainnya pun, meskipun imam, boleh menambahkan, meniadakan atau mengubah sesuatu dalam Liturgi atas prakarsa sendiri.
 
23.(Tradisi dan perkembangan) Supaya tradisi yang sehat dipertahankan, namun dibuka jalan juga bagi perkembangan yang wajar, hendaknya selalu diadakan lebih dulu penyeklidikan teologis, historis, dan pastoral, yang cermat tentang setiap bagian Liturgi yang perlu ditinjau kembali. Kecuali itu hendaklah dipertimbangkan baik patokan-patokan umum tentang susunan dan makna Liturgi, maupun pengalaman yang diperoleh dari pembaharuan Liturgi belakangan ini serta dari izin-izin yang diberikan di sana-sini. Akhirnya janganlah kiranya diadakan hal-hal baru, kecuali bila sungguh-sungguh dan pasti dituntut oleh kepentingan Gereja; dan dalam hal ini hendaknya diusahakan dengan cermat, agar bentuk-bentuk baru itu bertumbuh secara kurang lebih organis dari bentuk-bentuk yang sudah ada. Sedapat mungkin hendaknya dicegah juga, jangan sampai ada perbedaan-perbedaan yang menyolok dalam upacar-upacara di daerah-daerah yang berdekatan.
 
26.B.Kaidah-kaidah berdasarkan hakekat Liturgi sebagai tindakan Hirarki dan jemaat
 
Upacara-upacara Liturgi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan Gereja sebagai sakramen kesatuan, yakni Umat kudus yang berhimpun dan diatur dibawah para Uskup. Maka upacara-upacara itu menyangkut seluruh Tubuh Gereja dan menampakkan serta mempengaruhinya; sedangkan masing-masing anggota disentuhnya secara berlain-lainan, menurut keanekaan tingkatan, tugas serta keikut-sertaan aktual mereka.
 
29. Juga para pelayan Misa (putera altar), para lektor, para komentator dan para anggota paduan suara benar-benar menjalankan pelayanan liturgis. Maka hendaknya mereka menunaikan tugas dengan saleh, tulus dan saksama, sebagaimana layak untuk pelayanan seluhur itu, dan sudah semestinya dituntut dari mereka oleh Umat Allah. Maka perlulah mereka secara mendalam diresapi semangat Liturgi, masing-masing sekadar kemampuannya, dan dibina untuk membawakan peran mereka dengan tepat dan rapih.
 
37.D.Kaidah-kaidah untuk menyesuaikan Liturgi dengan tabiat perangai dan tradisi bangsa-bangsa
 
Dalam hal-hal yang tidak menyangkut iman atau kesejahteraan segenap jemaat, Gereja dalam Liturgi pun tidak ingin mengharuskan suatu keseragaman yang kaku. Sebaliknya Gereja memelihara dan memajukan kekayaan yang menghiasi jiwa pelbagai suku dan bangsa. Apa saja dalam adat kebiasaan para bangsa, yang tidak secara mutlak terikat pada takhayul atau ajaran sesat, oleh Gereja dipertimbangkan dengan murah hati, dan bila mungkin dipeliharanya dengan hakekat semangat Liturgi yang sejati dan asli.
 
39.Dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh terbitan otentik buku-buku Liturgi, pimpinan Gereja setempat yang berwenang, seperti disebut dalam art. 22, (2), berhak untuk memerinci penyesuaian-penyesuaian, terutama mengenai pelayanan Sakramen-sakramen, sakramentali, perarakan, bahasa Liturgi, musik Gereja dan kesenian, asal saja sesuai dengan kaidah-kaidah dasar yang terdapat dalam konstitusi ini. 
 
112. (Martabat musik Liturgi) Tradisi musik Gereja semesta merupakan kekayaan yang tak terperikan nilainya, lebih gemilang dari ungkapan-ungkapan seni lainnya, terutama karena nyanyian suci yang terikat pada kata-kata merupakan bagian Liturgi meriah yang penting atau integral. Ternyata lagu-lagu ibadat sangat dipuji baik oleh Kitab suci, maupun oleh para Bapa Gereja; begitu pula oleh para Paus, yang dipelopori oleh Santo Pius X, - akhir-akhir ini semakin cermat menguraikan peran serta Musik Liturgi mendukung ibadat Tuhan. Maka Musik Liturgi semakin suci, bila semakin eret hubungannya dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebig semarak. Gereja menyetujui segala bentuk kesenian yang sejati, yang memiliki sifat-sifat menurut persyaratan Liturgi, dan mengizinkan penggunaannya dalam ibadat kepada Allah. 
 
114.Khazanah Musik Liturgi hendaknya dilestarikan dan dikembangkan secermat mungkin. Paduan suara hendaknya dibina dengan sungguh-sungguh, terutama di gereja-gereja katedral. Para Uskup dan para gembala jiwa lainnya hendaknya berusaha dengan tekun, supaya pada setiap upacara Liturgi yang dinyanyikan segenap jemaat beriman dapat ikut serta secara aktif dengan membawakan bagian yang diperuntukkan bagi mereka, menurut kaidah art. 28 dan 30.
 
116.(Nyanyian Gregorian dan Polifoni) Gereja memandang nyanyian Gregorian sebagai nyanyian khas bagi Liturgi Romawi. Maka dari itu, bila tiada pertimbangan-pertimbangan yang lebih penting , nyanyian Gregorian hendaknya diutamakan dalam upacara-upacara Liturgi. Jenis-jenis lain Musik Liturgi, terutama polifoni, sama sekali tidak dilarang dalam perayaan ibadat suci, asal saja selaras dengan jiwa upacara Liturgi, menurut ketentuan pada art. 30. 
 
119.(Musik Liturgi di daerah-daerah Misi) Di wilayah-wilayah tertentu, terutama di daerah Misi, terdapat bangsa-bangsa yang mempunyai tradisi musik sendiri, yang memanikan peran penting dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Hendaknya musik itu mendapat penghargaan selayaknya dan tempat yang sewajarnya , baik dalam membentuk sikap religius mereka, maupun dalam menyelesaikan ibadat dengan sifat-perangai mereka, menurut maksud art. 39 dan 40. Maka dari itu dalam pendidikan musik bagi para misionaris hendaknya sungguh diusahakan, supaya mereka sedapat mungkin mampu mengembangkan musik tradisional bangsa-bangsa itu disekolah-sekolah maupun dalam ibadat.
 
120.(Orgel dan alat-alat musik lainnya) Dalam Gereja Latin orgel pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional, yang suaranya mampu memeriahkan upacara-upacara Gereja secara mengagumkan, dan mengangkat hati Umat kepada Allah dan ke sorga. Akan tetapi, menurut kebijaksanaan dan dengan persetujuan pimpinan gerejawi setempat yang berwenang, sesuai dengan kaidah art. 22 (2), 37 dan 40, alat-alat musik lain dapat juga dipakai dalam ibadat suci, sejauh memang cocok atau dapat disesuaikan dengan penggunaan dalam Liturgi, sesuai pula dengan keanggunan gedung gereja, dan sungguh membantu memantapkan penghayatan Umat beriman.
 
121.(Panggilan para pengarang musik) Dipenuhi semangat kristiani, hendaknya para seniman musik menyadari, bahwa mereka dipanggil untuk mengembangkan Musik Liturgi dan memperkaya khazanahnya. Hendaklah mereka mengarang lagu-lagu, yang mempunyai sifat-sifat musik Liturgi yang sesungguhnya, dan tidak hanya dapat dinyanyikan oleh paduan-paduan suara yang besar, melainkan cocok juga bagi paduan-paduan suara yang kecil, dan mengembangkan keikut-sertaan aktif segenap jemaat beriman. Syair-syair bagi nyanyian Liturgi hendaknya selaras dengan ajaran katolik, bahkan terutama hendaklah ditimba dari Kitab suci dan sumber-sumber Liturgi. Musik Sakral. Setelah Konsili itu jatuh ke Kongregasi Ritus-ritus Sakral (sekarang disebut Ibadat Ilahi dan Tata-tertib Sakramen) untuk menerapkan norma-norma Sacrosanctum Concilium dalam menerapkan dokumen-dokumen yang menyentuh semua bidang reformasi liturgis. Di bidang musik liturgi, dokumen pelaksana disebut Musicam sacram (Musik Sakral). Ini menetapkan apa yang bisa disebut musik sakral. 
 
4. Diharapkan bahwa para gembala jiwa, musisi, dan umat beriman dengan senang hati menerima norma-norma ini dan mempraktekkannya, menyatukan upaya mereka untuk mencapai tujuan sebenarnya dari musik sakral, "yang merupakan kemuliaan Tuhan dan pengudusan yang setia. " [SC 112]
 
(A) Dengan musik sakral dipahami apa,
sedang diciptakan untuk perayaan ibadat ilahi,
diberkati dengan ketulusan suci tertentu dari bentuk. 
 
(B) Berikut ini di bawah judul musik sakral di sini:
Nyanyian Gregorian,
polifoni suci dalam berbagai bentuknya baik kuno maupun modern,
musik sakral untuk organ dan instrumen lain yang disetujui, dan
musik populer yang sakral, baik itu liturgi atau agama.
 
Jadi, musik liturgi populer, atau religius, dapat menjadi sakral jika:
1) diciptakan untuk ibadah, dan
2) diberkati dengan ketulusan bentuk tertentu.
 
Ini menunjukkan bahwa lagu-lagu sekuler yang diadaptasi tidak dapat digunakan dalam Misa, tetapi kreasi modern yang memiliki karakter yang dijelaskan dapat digunakan.
  
Adapun instrumen, dokumen panduan yang sama menyatakan,
 
62. Alat musik dapat menjadi sangat bermanfaat dalam perayaan-perayaan kudus, entah untuk mengiringi lagu-Iagu, entah dimainkan sendiri sebagai instrumental tunggal. "Organ pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional Gereja Latin; suaranya mampu menyemarakkan upacara-upacara ibadat secara mengagumkan, dan dengan mantap mengangkat hati umat ke hadapan Allah dan ke alam surgawi. Akan tetapi dengan persetujuan pimpinan gerejawi setempat yang berwenang, alat-alat musik lain dapat juga dipakai dalam ibadat, asal sesuai dan dapat disesuaikan dengan fungsi kudusnya, cocok dengan keanggunan gedung gereja, dan benar-benar membantu memantapkan ibadat kaum beriman. 
 
63. Dalam mengizinkan penggunaan alat musik tersebut, kebudayaan dan tradisi masing-masing bangsa hendaknya diperhitungkan. Tetapi alat-alat musik yang menurut pendapat umum -dan defakto - hanya cocok untuk musik sekular, haruslah sama sekali dilarang penggunaannya untuk perayaan liturgis dan devosi umat. Setiap alat musik yang diizinkan pemakaiannya dalam ibadat hendaknya digunakan sedemikian rupa sehingga memenuhi tuntutan perayaan liturgis, dan bermanfaat baik untuk menyemarakkan ibadat maupun untuk memantapkan jemaat. 
 
PUMR. Pedoman Umum Misale Romawi (2002) menyatakan sebagai berikut: 
 
20. Seperti halnya dengan semua liturgi, Perayaan Ekaristi pun dilaksanakan dengan menggunakan tanda-tanda inderawi. Lewat tanda-tanda itu iman umat diungkapkan, dipupuk, dan diperkuat. Dari sebab itu, sungguh penting untuk memanfaatkan semua unsur dan bentuk perayaan yang disediakan oleh Gereja. Hal itu memungkinkan umat berpartisipasi secara lebih aktif dan memetik manfaat lebih besar bagi kepentingan rohaninya. Semua itu dilaksanakan dengan memperhatikan kekhususan umat dan tempat.  
 
24.Untuk sebagian besar, penyerasian-penyerasian itu terbatas pada pemilihan ritus atau teks, yakni pemilihan nyanyian, bacaan, doa, ajakan, dan tata gerak yang lebih sesuai dengan kebutuhan, kesiapan, dan kekhasan jemaat. Pemilihan-pemilihan seperti itu dipercayakan kepada imam yang memimpin perayaan Ekaristi. Namun, imam harus ingat bahwa dia adalah pelayan liturgi kudus, dan bahwa ia sendiri tidak diizinkan menambah, mengurangi, atau mengubah sesuatu dalam perayaan Misa atas kemauannya sendiri. 
 
39.Rasul Paulus menganjurkan kepada himpunan umat yang menantikan kedatangan Tuhan, supaya mereka melagukan mazmur, madah, dan lagu-lagu rohani ( lih. Kol 3:16 ). Orang bernyanyi karena hatinya gembira (lih .Kis 2:46). Dengan tepat Agustinus berkata, "Orang yang penuh cinta suka bernyanyi". Ada juga peribahasa kuno, "yang bernyanyi dengan baik berdoa dua kali." 
 
41.Meskipun semua nyanyian sama, nyanyian gregorian yang merupakan ciri khas liturgi Romawi, hendaknya diberi tempat utama. Semua jenis musik ibadat lainnya, khususnya nyanyian polifoni, sama sekali tidak dilarang, asal saja selaras dengan jiwa perayaan liturgi dan dapat menunjang partisipasi seluruh umat beriman. Dewasa ini, makin sering terjadi himpunan jemaat yang terdiri atas bermacam-macam bangsa. Maka sangat diharapkan agar umat mahir melagukan bersama-sama sekurang-kurangnya beberapa bagian ordinarium Misa dalam Bahasa Latin, terutama Credo dan Pater noster dengan lagu yang sederhana.
 
42.Tata gerak dan sikap tubuh imam, diakon, para pelayan, dan jemaat haruslah dilaksanakan sedemikian rupa sehingga: (1) seluruh perayaan memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun; (2) makna aneka bagian perayaan dipahami secara tepat dan penuh; dan (3) partisipasi seluruh jemaat ditingkatkan. Oleh karena itu, ketentuan hukum liturgi dan tradisi Ritus Romawiserta kesejahteraan rohani umat Allah harus lebih diutamakan daripada selera pribadi dan pilihan yang serampangan.
 
Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat yang berhimpun untuk merayakan Liturgi Kudus. Sebab sikap tubuh yang sama mencerminkan dan membangun sikap batin yang sama pula.
 
Dengan demikian, harus jelas dari norma-norma umum, serta dari norma-norma yang mengatur bagian-bagian tertentu dari Misa, bahwa sementara jelas ada unsur penilaian pada bagian dari uskup dan imam seperti apa musik dan instrumen untuk memungkinkan dalam Misa, bahwa izin ini tidak meluas ke musik dan instrumen yang sifatnya sekuler murni yang tidak dapat beradaptasi dengan liturgi dan karakter sucinya.

Ditulis oleh: Colin B. Donovan, STL
Ilustrasi foto: http://www.churchofstjohnstjoseph.org

Sabtu, 06 Januari 2018

Kasulamu Imamku, Ternoda Oleh Tebar Pesonamu


Aku hanya umat biasa, yang telah berpuluh tahun menjadi Katolik dan membanggakan engkau Imamku bukan karena suaramu yang lantang saat berkotbah, bukan pula karena goyangan pinggulmu di depan altar ketika menari bersama anak-anak sekolah Minggu, melainkan karena Jubah dan Kasula Keagungan yang membalut ragamu imamku.
Melihatmu berjingrak yang masih mengenakan jubah dan kasula serta stola, aku hanya merintih dan menangis dalam hati. Kasula dan Stola lambang pelayananmu yang rendah hati dan penuh pengorbanan, yang ketika hendak dicucipun harus dipisahkan dari cucian lainnya, kini engkau kotori oleh sikapmu sendiri hanya untuk tebar pesona mencari pujian engkau imam yang bagus dan kreative bahkan dengan bangga engkau jadikan kasulamu sebagai kantong “saweran” idolamu.
Sedikitpun aku tak merasa bangga dengan caramu itu. Aku justru terluka. Engkau telah menyayat keKatolikanku, engkau telah menyalibkan Ekaristi Kudusku, engkau telah memenggal ketaatan imanku pada Kristus melalui aturan termasuk aturan liturgi Gereja Katolik yang kubanggakan. Imamku, biar engkau tahu bahwa aku dan anak-anakku, tak pernah mengalami kekeringan iman hanya karena Misa sesuai aturan yang ada. Khusuknya doa-doa kami dan setianya kami pada Gereja Katolik bukan karena caramu membawakan misa dengan tarian atau dengan jalan ke sana ke mari ketika berkotbah. Tidak. Sama sekali tidak.
Justru dengan caramu yang tidak etis secara liturgis: kotbah jalan ke sana ke mari, turun dari panti imam dan mendekat umat serta menari di depan altar dengan alasan menghidupkan iman umat, saya justru merasakan ENGKAU IMAMKU, ALTER KRISTUS TELAH MENJAUHKAN SAYA DARI KRISTUS YANG SEHARUSNYA SAYA JUMPAI, SAYA BERCERITERA DENGAN-NYA DALAM MISA. Dan engkau menyingkirkan bahkan mengucilkan Yesus hanya untuk memamerkan dirimu di balik Tebar pesona yang bagiku engkau tak lebih dari seorang anak kecil yang sedang merengek untuk diperhatikan.
Imamku, dari kasulamu kutemukan wajah Yesus yang menghidupkan imanku. Namun engkau lecehkan, engkau rendahkan hanya demi kepuasan sesaat para fansmu. Engkau disorak bagai sang idola dan saat itu juga Yesus yang sedang bersemayam di Tabernakel tidak lagi dihiraukan. Engkau ditepuki tangan di tengah riuh musik bagai di tenda pesta dan engkau tak lagi peduli pada Dia Sang Imam Agung yang sedang bertakhta.
Di tengah luka imanku yang tersayat oleh tebar pesonamu, perih luka imanku kembali engkau torehkan, kala suaraku yang tak lagi muda memprotes tingkahmu yang telah melecehkan dan merendahkan martabat Ekaristi dan Kasula serta stolamu, dengan angkuhnya engkau menjawab; aku ini pastor paling tahu, jangan jadi orang Farisi deh bu, atau jangan-jangan ibu ini kaum Papist. Masuk surga atau tidak bukan karena kasula atau stola ini bukan pula tergantung pada Ekaristi tapi pada iman ibu.
Saya hanya diam, meski menangis dalam bathin. Bahkan dengan sombongmu engkau memposting gugatanmu padaku yang telah memprotesmu di ruang facebook. Di sanalah sekutu idolamu menghakimi suara kenabian aku dan kami umatmu yang hanya ingin menjadi liturgi termasuk Misa sebagai jalan perjumpaan kami dengan Yesus.
Aku tak butuh engkau mengotori kasula dan stola pelayananmu dengan caramu merusak liturgi Ekaristi hanya demi alasan dekat dengan aku dan umat lainnya. Aku butuh engkau mengunjungi kami di rumah kami sebagai Yesus yang menjumpai kami. Aku sudah sangat bahagia ketika sebelum misa engkau telah berada di depan pintu gereja menyalami kami atau setelah misa engkau mendekati kami dan memberikan berkat. Itu sudah luar biasa karena cara sederhana namun engkau menghadirkan dan mendekatkan Yesus kepada kami seperti Filipus yang berkata kepada Natanel; “Kami sudah melihat Kristus” (Jn 1:45).
Imamku...semoga pesanku ini cukup menggelitikmu untuk sejenak merenung. Karena adalah omong kosong ketika engkau lantang mengajak kami bertobat namun engkau Imamku tak pernah bertobat dari penistaan liturgi Ekaristi di balik sucinya alba, Kasula dan Stolamu. Maka tak ada pesan lain yang kutitipkan padamu, namun hanya sebuah penggalan nomor Sacrosantum Concilimu menjadi pesan buatmu:
17. Hendaklah para rohaniwan di seminari-seminari maupun di rumah-rumah religius, mendapat pembinaan liturgis demi hidup rohani mereka, baik melalui bimbingan yang memadai untuk memahami upacara-upacara suci sendiri, pun juga melalui ulah kesalehan lainnya yang diresapi oleh semangat Liturgi. Begitu pula hendaklah mereka belajar mematuhi hukum-hukum Liturgi, sehingga kehidupan diseminari-seminari dan tarekat-tarekat religius dirasuki semangat Liturgi secara mendalam.
18. Hendaklah para imam baik diosesan maupun religius, yang sudah berkarya di kebun anggur Tuhan, dibantu dengan segala upaya yang memadai, supaya mereka semakin mendalam memahami apa yang mereka laksanakan dalam pelayanan-pelayanan suci, menghayati hidup liturgis, dan menyalurkannya kepada Umat beriman yang dipercayakan kepada mereka. 
Semoga.
Manial: January-05-2018
RP. Yohanes Tuan Kopong MSF

Kasula Bukan Pakaian Konser



Saya masih ingat jelas, ketika masih sebagai seorang Frater. Saya masih ingat betul, ketika ada tahbisan imam, pada bagian kata sambutan Imam Baru, selalu ada persembahan dari Imam Baru berupa lagu, di mana Imam Baru menyanyikan lagu persembahan ada yang dengan tata gerak atau hanya berdiri dan jika di antara imam baru ada yang bisa memainkan gitar, maka iapun akan mengiringi teman-temannya untuk menyanyikan lagu tersebut.
Namun kejadian yang sepertinya sudah mentradisi ini tidak dilakukan lagi, karena waktu itu diingatkan oleh Bapak Uskup Agung Semarang: Mgr. Ignatius Suharyo, yang kala itu masih sebagai Uskup Agung Semarang. Kalau tidak salah pesan Beliau waktu itu demikian; “Sayang Kasula Baru yang baru diberkati dan disucikan tapi langsung “dinodai” dengan hal-hal profan. Kasula bukan pakaian konser. Kata Sambutan sudah cukup mewakili perasaan syukur atas Rahmat Tahbisan. Kalau mau menyanyi, sebaiknya pada saat acara ramah tamah atau acara kebersamaan.
Pesan Bapak Uskup ini sangat jelas dan tegas bagi kita semua, apalagi bagi seorang Imam. Bahwa Kasula adalah Pakaian Resmi Liturgi sebagaimana di tegaskan dalam PUMR:
335. Gereja adalah Tubuh Kristus. Dalam Tubuh itu tidak semua anggota menjalankan tugas yang sama. Dalam perayaan Ekaristi, tugas yang berbeda-beda itu dinyatakan lewat busana liturgis yang berbeda-beda. Jadi, busana itu hendaknya menandakan tugas khusus masing-masing pelayan. Di samping itu, busana liturgis juga menambah keindahan perayaan liturgis. Seyogyanya busana liturgis untuk imam, diakon, dan para pelayan awam diberkati.
336. Busana liturgis yang lazim dikenakan oleh semua pelayan liturgi, tertahbis maupun tidak tertahbis, ialah alba, yang dikencangi dengan singel, kecuali kalau bentuk alba itu memang tidak menuntut singel. Kalau alba tidak menutup sama sekali kerah pakaian sehari-hari, maka dikenakan amik sebelum alba. Kalau pelayan menggunakan kasula atau dalmatik, ia harus mengenakan alba, tidak boleh menggantikan alba tersebut dengan superpli. Juga, sesuai dengan kaidah yang berlaku, tidak boleh pelayan hanya mengenakan stola tanpa kasula atau dalmatik.
337. Busana khusus bagi imam selebran dalam Misa ialah “kasula” atau planeta. Begitu pula dalam perayaan liturgi lainnya yang langsung berhubungan dengan Misa, kecuali kalau ada peraturan lain. Kasula dipakai di atas alba dan stola.
Dari penjelasan di atas, Kasula bukan pakaian konser yang biasa “dilecehkan dan dinodai” oleh segelintir oknum Imam, yang menjadi aktor pelecehan dan penodaan.
Kasula bukan menjadi ajang pamer, tebar pesona untuk mencari pujian umat lantaran imamnya kreative. Tapi kasula adalah pengungkapan misteri pewartaan Iman. Dari dalam kasula, seorang Imam bersama umat dibaharui dalam pelayanan. Jadi kalau mau kreative, kreativelah yang cerdas.
SEORANG IMAM DIHARGAI DAN DIHORMATI BUKAN KARENA STATUS IMAM ITU SENDIRI MELAINKAN KARENA KASULA YANG ENGKAU KENAKAN. MAKA KETIKA SEORANG IMAM YANG MENGENAKAN KASULA LALU MENARI DI DEPAN ALTAR, MELAKUKAN GOYANGAN SEPERTI ANAK SEKOLAH MINGGU, SEJATINYA IMAM ITU SEDANG MELECEHKAN UMAT YANG SETIA MENJAGA KEKHUSUKAN MISA DAN MENJAGA MARTABAT IMAMAT SEORANG IMAM, DEMIKIAN JUGA SANG IMAM SEDANG MENODAI MARTABAT IMAMATNYA SENDIRI. Semoga.
Manila: January-02-2018
RP. Tuan Kopong MSF

Minggu, 30 Oktober 2016

PERHATIKAN: Kardinal Burke mencela 'interkomuni ' penghormatan Paus untuk Luther di Swedia

Zagreb, Kroasia, 28 Oktober 2016 (LifeSiteNews) – Ini adalah dogma Gereja Katolik yang tidak dapat diubah/direformasi"irreformable" bahwa hanya mereka yang percaya kalau Yesus Kristus benar-benar hadir dalam konsekrasi roti dan anggur dapat menerima Komuni Kudus, pernyataan Kardinal Raymond menutup pembicaraan. Kardinal dari vatikan itu mengatakan bahwa St. Paulus menjelaskan bahwa kecuali jika penerimaan orang itu tidak mengakui tubuh Kristus, ia berkata, "makan roti dan anggur itu adalah kutukan bagi dirinya sendiri."
 
"Ini adalah sakrelegi. Ini adalah salah satu diantara dosa berat," katanya.
 
Kardinal itu menanggapi pertanyaan tentang interkomuni dengan denominasi Kristen lainnya diminta oleh LifeSiteNews 'John-Henry Westen pada tanggal 23 Oktober , peluncuran versi Kroasia buku kardinal tentang Ekaristi di Zagreb, Kroasia.
 
"Tidak ada yang bisa mendekati untuk menerima Ekaristi Kudus kecuali ia percaya bahwa Hosti yang sedang dia terima - walaupun tampak seperti roti, rasanya seperti roti, dan bau seperti roti - dalam kenyataannya ini adalah tubuh dan darah Kristus. Hanya orang yang percaya dengan keyakinan seperti ini dapat mendekat Sakramen Mahakudus, dan bisa mendekat untuk menerima Komuni Kudus, "katanya.
 
Komentar Burke datang sehari sebelum Paus Fransiskus melakukan perjalanan ke Lund, Swedia untuk memperingati ulang tahun ke-500 Martin Luther dari 95 tesis-nya yang cemerlang untuk pintu dari istana gereja Wittenberg pada tanggal 31 Oktober, 1517. Lutheran dan uskup Katolik telah menyatakan harapan bahwa Paus akan memperbolehkan untuk interkomuni pada pertama kali setidaknya untuk Lutheran menikah dengan umat Katolik.
 
Paus telah menunjukkan keterbukaan untuk Lutheran menerima Komuni Kudus bersama umat Katolik, mengatakan kepada seorang wanita Lutheran tahun lalu untuk "maju ke depan" dipandu oleh hati nuraninya. Juga tahun lalu, seorang pendeta Lutheran dari Roma bersikeras bahwa Paus telah "membuka pintu" untuk interkomuni antara umat Katolik dan Lutheran setelah Paus mengunjungi sebuah komunitas Lutheran dan mengatakan bahwa kedua agama "harus berjalan bersama-sama."
 
Tapi Kardinal Robert Sarah, kepala liturgi Vatikan, merespons berapa hari kemudian dengan menyatakan bahwa "interkomuni tidak diizinkan antara umat Katolik dan non-Katolik," menambahkan bahwa "Anda harus mengakui iman Katolik. Non-Katolik tidak dapat menerima Komuni. Itu sangat, sangat jelas. Ini bukan masalah tentang nurani anda. "
 
Burke menyebutnya "sangat bermasalah" bagi siapa pun untuk menunjukkan bahwa mendatangi perayaan untuk menghormati Martin Luther harus menjadi "kesempatan semacam 'keramahan Ekaristi' atau interkomuni."
 
"Itu tidak mungkin. Ya, itu adalah tidak dapat diubah/direformasi “irreformable”, "katanya.
"Begitu pula Hosti Suci adalah tubuh, darah, jiwa dan keilahian Kristus, atau tidak. Dan jika iya, itu adalah dosa berat untuk menawarkan Hosti Suci untuk seseorang yang tidak percaya, "pungkasnya. 
 
Pernyataan penuh kardinal Burke
 
LifeSiteNews: Yang Mulia, apakah ada sesuatu tentang Ekaristi Kudus yang melarang interkomuni dengan denominasi Kristen lainnya? Kami memiliki minggu depan, dan sudah diberitahukan, beberapa pimpinan Lutheran mengungkapkan harapan untuk menerima Komuni dan memiliki interkomuni antara agama. Apakah ada sesuatu tentang Ekaristi Kudus yang melarang itu, dan jika ada pelarangan seperti itu, adakah hal itu mengajarkan yang tidak dapat direformasi/diubah “irreformable” ?
 
Kardinal Raymond Burke: Apa itu Ekaristi Kudus [yang melarang interkomuni antara agama]? Ini kenyataan bahwa Ekaristi Kudus adalah tubuh, darah, jiwa dan keilahian Kristus, bahwa setelah kata-kata konsekrasi diucapkan [oleh] imam - meminjam suaraNya untuk Kristus sendiri yang adalah pribadi yang melakukan tindakan pada Misa Suci - roti dan anggur diubah dalam substansi mereka ke dalam tubuh dan darah Tuhan kita Yesus Kristus.
 
Dan, tidak ada yang bisa mendekat untuk menerima Ekaristi Kudus kecuali ia percaya bahwa Hosti yang sedang dia terima - walaupun tampak seperti roti, rasanya seperti roti, dan bau seperti roti - dalam kenyataannya ini adalah tubuh dan darah Kristus. Hanya orang yang percaya dengan hal ini dapat mendekat Sakramen Mahakudus, dan bisa mendekat untuk menerima Komuni Kudus.
 
St. Paulus membuat ini sangat jelas dalam bab 11 dari surat pertama kepada jemaat di Korintus, di mana ada pelanggaran dalam perayaan Ekaristi di Gereja awal. Dia mengatakan sangat terbuka bahwa orang yang menerima Komuni Kudus tanpa mengakui tubuh Kristus, maka roti dan anggur itu adalah kutukan bagi dirinya sendiri. Ini adalah penistaan/sakrelegi. Ini adalah salah satu diantara dosa berat
 
Dan, kita tidak mengundang mereka yang tidak percaya pada Kehadiran Nyata untuk menerima Komuni Kudus, pertama-tama untuk menghormati Tuhan kita Yesus Kristus dan menghormati realitas Ekaristi Kudus, tetapi juga menghormati orang-orang, karena mengajak mereka untuk menerima sesuatu yang mereka tidak percaya adalah tanda akhir dari ketidak-hormatan [untuk Tuhan kita] dan melakukan kesalahan besar untuk jiwa-jiwa mereka yang begitu diundang.
 
Ini adalah masalah sederhana. contohnya, [mengambil] keyakinan Lutheran yang klasik: Ada ide ini tentang komuni kudus dari jenis kehadiran moral Tuhan kita selama perayaan liturgy mereka. Tapi, ketika liturgi telah selesai, roti –roti yang mereka gunakan - dan saya menggunakan istilah dengan hati-hati , yaitu 'roti,' sebab roti-roti itu bukanlah tubuh Kristus – dan mereka dengan mudah meletakkan kembali dalam laci untuk lain waktu.
 
Bagi kita, sekali Hosti telah ditempatkan pada altar dan telah terkonsekrir, yang tertranssubstansiasikan ke dalam tubuh dan darah Kristus, Hosti-Hosti itu diletakkan dalam tabernakel bagi mereka yang sakit dan sekarat, untuk penyembahan kita, dan untuk persekutua akhir orang beriman. Hosti-Hosti tidak pernah diperlakukan dengan cara lain namun sebagai Kehadiran Nyata Tuhan kita Yesus Kristus di tengah-tengah kita.
 
Saya pikir itu sangat bermasalah untuk menunjukkan bahwa perayaan yang akan berlangsung untuk menghormati Martin Luther akan menjadi kesempatan semacam 'keramahan Ekaristi' atau interkomuni. Itu tidak mungkin. Ya, itu adalah tidak bias direformasi/diubah “irreformable”.
 
Begitu pula Hosti Suci adalah tubuh, darah, jiwa dan keilahian Kristus, atau tidak. Dan jika iya, itu adalah dosa berat untuk menawarkan Hosti Suci untuk seseorang yang tidak percaya 
 

Kamis, 07 Juli 2016

Kutipan Kardinal Robert Sarah - Prefek Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen

5 JULI 2016




Saya juga melihat para imam, dan uskup,sebagai pribadi yang merayakan Misa Kudus, mengambil telepon dan kamera dan menggunakannya dalam Liturgi Suci. Ini adalah tuntutan mengerikan dari apa yang mereka mengerti, mereka lakukan ketika mereka mengenakan busana liturgis, yang mana pakaian kami sebagai alter Christus-dan banyak lagi, sebagai “Ipse Christus”, seperti Kristus sendiri. Melakukan hal ini adalah dosa sakrilegi (penistaan). Tidak ada sebagai pribadi uskup, imam atau diakon untuk pelayanan liturgi atau hadir di tempat kudus harus mengambil foto, bahkan pada skala besar Misa konselebrasi. Bahwa imam sering melakukan ini pada Misa tersebut, atau berbicara dengan satu sama lain dan duduk santai, adalah sebagai tanda, saya pikir, bahwa kita perlu memikirkan kembali kesesuaian mereka, terlebih jika mereka memimpin para imam dalam perilaku skandal semacam ini yang begitu tidak layak dari misteri yang dirayakan, atau jika ukurannya tipis dari konselebrasi ini mengarah ke risiko pencemaran Ekaristi Mahakudus. (Kardinal Robert Sarah, Prefek Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen)





  "Sebelum saya menyimpulkan, saya mohon izin untuk menyebutkan beberapa cara sederhana  lainnya yang juga dapat berkontribusi untuk lebih setia melaksanakan  Sacrosanctum Concilium. Salah satunya adalah bahwa kita harus menyanyikan liturgi itu, kita harus menyanyikan teks-teks liturgi itu, menghormati tradisi liturgi Gereja dan bersukacita dalam perbendaharaan musik sakral yang adalah milik kita, terutama bahwa musik yang tepat untuk ritus Romawi, adalah  lagu Gregorian. Kita harus menyanyikan musik liturgi suci  tidak  hanya sebagai musik religius, atau lebih buruk, sebagai lagu profan. "




 (Tambahan)
Berbicara tentang penerimaan Komuni Kudus  dengan  berlutut,  saya ingin mengingat tahun 2002, tentang  surat dari Kongregasi Ibadah Ilahi dan Disiplin Sakramen yang menjelaskan bahwa "penolakan Komuni Kudus untuk anggota yang setia pada  dasar-nya  dengan  postur berlutut [adalah] pelanggaran berat terhadap salah satu hak paling dasar dari orang Kristen yang setia " (Surat, 1 Juli 2002, Notitiae, n. 436, November-Desember 2002, hal. 583).




(Tambahan)

Kita harus memastikan bahwa  penyembahan “adorasi “ adalah jantung dari perayaan liturgi kita. Terlalu sering kita tidak bergerak dari perayaan ke adorasi, tetapi jika kita tidak melakukan itu,  saya khawatir bahwa kita mungkin tidak selalu berpartisipasi dalam liturgi sepenuhnya, secara internal. Dua disposisi tubuh yang membantu, memang sangat diperlukan di sini. Yang pertama adalah hening. Jika saya tidak pernah hening, jika liturgi memberi saya ruang untuk doa dengan keheningan  dan kontemplasi, bagaimana saya bisa menyembah  Kristus, bagaimana saya bisa terhubung dengan Dia di dalam hati dan jiwa saya?  Hening  adalah sangat penting, dan tidak hanya sebelum dan sesudah liturgi.

Kamis, 17 Maret 2016

Paus Emeritus Benediktus memecah keheningan: berbicara tentang 'krisis yang mendalam' menghadapi Gereja setelah Vatikan II

16 Maret 2016 (LifeSiteNews.com) - Pada tanggal 16 Maret 2016, berbicara secara terbuka dalam kesempatan yang jarang terjadi , Paus Benediktus XVI memberikan wawancara kepada Avvenire, koran harian Konferensi Waligereja Italia, di mana ia berbicara tentang "dua sisi krisis yang mendalam "Gereja sedang menghadapi kebangkitan Konsili Vatikan II. Laporan ini sudah menjadi berita utama bagi Guiseppe Nardi perwakilan Vatican di Jerman, dari situs berita Katolik Jerman Katholisches.info.
  
Paus Benediktus mengingatkan kita pada keyakinan Katolik sebelumnya yang tak terpisahkan dari kemungkinan hilangnya keselamatan kekal, atau manusia yang masuk ke neraka: 
  
Para misionaris abad ke-16 yakin bahwa orang yang tidak dibaptis hilang selamanya. Setelah Konsili Vatikan Kedua, keyakinan ini pasti ditinggalkan. Hasilnya adalah dua sisi, krisis yang mendalam. Tanpa memberi perhatian tentang hal ini untuk keselamatan, Iman akan kehilangan fondasinya.
  
Dia juga berbicara tentang "evolusi mendalam mengenai Dogma" sehubungan dengan Dogma bahwa tidak ada keselamatan di luar Gereja. Perubahan dogma ini diakui telah menyebabkan, di mata paus (Benediktus XVI), hilangnya semangat misionaris di Gereja - ". motivasi apapun untuk komitmen misionaris masa depan telah dihapus"

Paus Benediktus bertanya dengan pertanyaan yang tajam (menusuk) yang muncul setelah perubahan itu diketahui dari sikap Gereja: "Mengapa anda harus mencoba untuk meyakinkan orang untuk menerima iman Kristen ketika mereka bisa diselamatkan bahkan tanpa itu ? "

Sebagai konsekuensi lain dari sikap baru ini dalam Gereja, umat Katolik sendiri, di mata Benediktus, kurang melekat iman mereka: Jika ada orang yang dapat menyelamatkan jiwa mereka dengan cara lain, "mengapa orang Kristen terikat perlunya Iman Kristen dan moralitas? " tanya paus. Dan ia menyimpulkan: "Tetapi jika iman dan keselamatan tidak lagi saling tergantung, maka iman menjadi kurang memotivasi."
  
Paus Benediktus juga membantah kedua ide "Kristen yang tak dikenal" yang dikembangkan oleh Karl Rahner, serta gagasan indifferentist (menyamakan iman) bahwa semua agama sama-sama bernilai dan membantu sepenuhnya untuk mencapai hidup yang kekal. 
  
"Bahkan kurang dapat diterima adalah solusi yang diusulkan oleh teori-teori pluralis agama, yang semua agama, masing-masing dengan caranya sendiri, akan menjadi jalan keselamatan dan, dalam pengertian ini, harus dianggap setara dalam pengaruh kepercayaan mereka," katanya. Dalam konteks ini, ia juga menyinggung gagasan eksploratif Kardinal Jesuit yang sekarang telah almarhum, Henri de Lubac, tentang dimungkinkan "wakil pengganti" Kristus yang harus terjadi lagi " direfleksikan lebih dalam."
  
Berkenaan dengan hubungan manusia dengan teknologi dan untuk mencintai, Paus Benediktus mengingatkan kita tentang pentingnya kasih sayang manusia, mengatakan orang yang masih merindukan dalam hatinya "bahwa seorang Samaria yang baik hati datang membantunya." 
  
Dia melanjutkan: "Dalam kerasnya dunia teknologi - di mana perasaan tidak diperhitungkan lagi - harapan untuk mengamankan cinta tumbuh, cinta yang akan diberikan secara bebas dan murah hati."

Benediktus juga mengingatkan para pendengarnya bahwa: "Gereja tidak berdiri dengan sendirinya, ia diciptakan oleh Allah dan terus dibentuk oleh-Nya. Hal ini diekspresikan dalam Sakramen, di atas semua itu adalah Pembaptisan: Saya masuk ke dalam Gereja bukan oleh tindakan birokrasi, tetapi dengan pertolongan Sakramen ini "Benediktus juga menegaskan bahwa, akan selalu," kita memerlukan rahmat dan pengampunan "..

Jumat, 18 Maret 2011

Hal-hal yang dapat membuat kita tetap bersemangat dalam doa

1. Mohon rahmat Tuhan agar kita bisa masuk dalam doa.

2. Sediakan waktu khusus untuk menjaga relasi kita dengan Tuhan.

3. Tetap bertekun sekalipun kita sedang tidak bersemangat untuk berdoa. Lawan rasa enggan untuk berdoa bila kesempatan itu datang.

4. Sediakan 'tempat khusus' untuk bisa dapat duduk tenang. Dalam keramaian kita bisa mengundurkan diri dan masuk ke dalam tempat khusus tersebut.

5. Membaca kitab suci, ambil satu ayat yang berkesan buat kita mempersiapkan batin sebelum berdoa. Imani tiap ayat tsb sebagai hal yang akan memurnikan hati dan jiwa kita.

6. Miliki catatan doa. Sentuhan rahmat terjadi kapan saja dan di mana saja. Kalau kita tidak mencatatnya kita akan lupa. Kapanpun atau di manapun tiap hati tergerak sebelum berdoa, catat. Apa yang kita terima setelah kita berdoa, catat. Apapun yang kita terima sebelum, sesaat kita berdoa atau setelah kita berdoa, tulislah itu dalam catatan pribadi kita.

7. Kembangkan pola hidup doa yang sungguh.

8. Bila suatu hal susah kita bawa dalam doa maka cobalah berpuasa sambil kita berdoa. Manusia terdiri atas 3 daya; daya rohani, daya psikis dan daya jasmani. Bila kita berpuasa, kita mendera tubuh kita dan mengisolasi jiwa sehingga daya rohlah yang akan menguasai diri kita. Karena itu saat doa kita terasa tidak punya kuasa, puasa akan membantu doa kita.


8 dari 15 anjuran agar kita bisa berdoa dengan baik menurut Rm Adolf Heuken, SJ